Saham Teknologi Tertekan Aksi Jual, Bursa AS Ditutup Variatif

Rabu, 10 Juni 2026 | 10:23:16 WIB
Ilustrasi NYSE (New York Stock Exchange) adalah bursa saham terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Berlokasi di Wall Street, New York City (Foto: NET)

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (10/6/2026) waktu setempat, dipicu oleh aksi jual yang kembali menekan saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Tekanan pada sektor teknologi menyebabkan Nasdaq melemah, sementara Dow Jones masih berhasil mencatat kenaikan tipis.

Indeks S&P 500 turun 0,3 persen ke 7.386,65 setelah sempat berfluktuasi tajam dari kenaikan 1-2,3 persen selama sesi perdagangan. Dow Jones Industrial Average naik 86,10 poin atau 0,2 persen ke 50.872,11, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1 persen ke 25.678,82.

Tekanan muncul ketika saham produsen chip, memori, dan komponen utama AI berbalik arah dari zona hijau ke merah. Saham Micron Technology sempat melonjak 4 persen sebelum anjlok 10 persen dan ditutup turun 1,4 persen, padahal sehari sebelumnya saham tersebut melesat 9,9 persen setelah sempat jatuh 13,3 persen.

Koreksi juga dialami Marvell Technology yang turun 7,6 persen dan Advanced Micro Devices (AMD) yang melemah 3 persen. Kondisi ini kembali memicu perdebatan mengenai apakah reli saham AI telah berlangsung terlalu cepat atau hanya mengalami koreksi sehat setelah lonjakan signifikan tahun ini.

Di tengah volatilitas tersebut, sejumlah perusahaan AI tetap berupaya masuk ke pasar modal AS. OpenAI, pengembang ChatGPT, telah mengajukan dokumen rahasia kepada regulator AS untuk persiapan penawaran umum perdana saham (IPO), sementara IPO SpaceX diperkirakan berlangsung dalam waktu dekat.

Pelemahan saham AI menutupi sentimen positif dari penurunan harga minyak. Sekitar tiga dari empat saham anggota S&P 500 sebenarnya mencatat kenaikan. Harga minyak Brent turun 3 persen menjadi USD91,45 per barel di tengah ketidakpastian kesepakatan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz.

Namun, harga minyak memangkas penurunannya setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter militer Amerika di dekat Selat Hormuz dan menyatakan Amerika Serikat "harus" merespons serangan tersebut.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,52 persen dari 4,56 persen, meskipun level tersebut masih jauh di atas posisi 3,97 persen sebelum konflik dengan Iran memanas. Investor kini menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu dan Kamis.

Pelaku pasar juga memperkirakan Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi hingga akhir tahun.

Di sisi korporasi, saham American Airlines naik 3,6 persen dan Delta Air Lines menguat 3,8 persen karena penurunan harga minyak yang berpotensi menekan biaya bahan bakar.

Sementara itu, J.M. Smucker melonjak 10,4 persen pasca membukukan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis, dan saham perusahaan bioteknologi Nuvalent melesat 39,3 persen setelah menyepakati akuisisi senilai USD10,6 miliar oleh GSK.

Terkini