Bitcoin Anjlok 2,16 Persen, Analis Sebut Mirip Pola Bear Market

Rabu, 10 Juni 2026 | 10:23:16 WIB
Ilustrasi Analis mencatat pola penurunan Bitcoin menyerupai bear market tahun 2018 dan 2022. (Gambar: Forbes)

JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam pada hari Rabu (10/6/2026) pagi, di tengah meningkatnya tekanan jual menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Sejumlah analis menilai pergerakan Bitcoin saat ini mulai menunjukkan kemiripan dengan pola bear market yang pernah terjadi pada tahun 2018 dan 2022.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.55 WIB, kapitalisasi pasar kripto global jatuh 2,31 persen menjadi US$ 2,13 triliun. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) anjlok 2,16 persen ke level US$ 61.650 per koin atau sekitar Rp 1,12 miliar (kurs Rp 18.039 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar terpangkas 2,27 persen. Ethereum ambles 2,92 persen menjadi US$ 1.639, Binance (BNB) terkoreksi 1,44 persen ke US$ 592, XRP terkoreksi 2,55 persen ke US$ 1,13, Solana (SOL) jatuh 2,63 persen menjadi US$ 64,96, dan Dogecoin (DOGE) melemah 1,69 persen ke US$ 0,08.

Sebagaimana dilansir dari CoinTelegraph, harga Bitcoin (BTC) jatuh hingga mendekati level terendah pekan ini di tengah meningkatnya tekanan jual menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Sejumlah analis juga mengingatkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan kemiripan dengan pola bear market yang pernah terjadi pada 2018 dan 2022.

Menurut data TradingView, harga Bitcoin turun sekitar 1,2 persen dalam sehari. Aset kripto terbesar di dunia itu gagal menembus level resistance US$ 64.200 setelah mengalami dua kali penolakan (double rejection), sehingga membuka peluang pengujian ulang area support psikologis US$ 60.000.

Trader sekaligus analis kripto Michaël van de Poppe menyatakan bahwa level US$ 65.000 menjadi area krusial yang harus ditembus agar Bitcoin dapat kembali memasuki tren penguatan.

"Bitcoin masih tertahan di bawah US$ 65.000. Jika level tersebut berhasil ditembus, peluang kenaikan menuju kisaran US$ 72.000 hingga US$ 74.000 akan terbuka lebar," ujarnya melalui akun media sosial X, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, level US$ 65.000 sebelumnya merupakan area support penting setelah koreksi tajam pada Februari lalu. Kini area tersebut berubah menjadi resistance yang harus dilewati untuk mengonfirmasi pemulihan harga.

Meski demikian, Van de Poppe menilai pelemahan Bitcoin belakangan ini cenderung berlebihan dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental pasar. "Saya tidak berpikir pasar akan bertahan lama dalam kondisi ini karena aksi jual yang terjadi sebelumnya relatif tidak rasional," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pandangan lebih hati-hati disampaikan oleh analis kripto Rekt Capital. Menurutnya, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan kemiripan dengan fase pelemahan yang terjadi pada siklus bearish sebelumnya.

Rekt Capital mencatat Bitcoin telah kehilangan dua level teknikal penting, yakni Exponential Moving Average (EMA) 50 bulanan dan area support pola segitiga (triangle pattern). Kondisi serupa pernah terjadi menjelang fase penurunan lebih dalam pada 2018 dan 2022.

"Bitcoin perlu mengonfirmasi penembusan support ini. Jika terjadi, potensi percepatan tren bearish masih terbuka," tulisnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Bitcoin kembali bergerak berlawanan arah dengan pasar saham AS. Saat indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite dibuka menguat hampir 1 persen, Bitcoin justru melanjutkan pelemahannya.

Sentimen pasar global juga dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran membuat harga minyak dunia kembali turun.

Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran semakin besar dan dapat terwujud dalam waktu dekat. "Itu akan menjadi kemenangan besar. Kesepakatan akan terjadi dalam waktu dekat dan harga minyak akan turun tajam," ujar Trump, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah US$ 88 per barel dan menyentuh level terendah sejak 29 Mei 2026. Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi AS yang dinilai akan menjadi katalis utama bagi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin, dalam beberapa hari ke depan.

Terkini