Harga Karet Rp41.354 per Kilogram, Petani Sumatera Selatan Diimbau Tingkatkan Kualitas

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:01:10 WIB
Ilustrasi ladang karet (Foto: NET)

BANYUASIN – Nilai jual komoditas karet di wilayah Sumatera Selatan mencatatkan tren kenaikan dalam kurun beberapa minggu belakangan.

Merespons situasi tersebut, kalangan petani diimbau untuk memacu mutu serta kualitas dari hasil panen mereka supaya bisa mendapatkan penawaran harga jual yang lebih kompetitif di sektor pasar.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkindo) Sumatera Selatan, Rudy Arpian, mengutarakan bahwa nilai jual karet dengan parameter kadar karet kering 100 persen untuk saat ini sudah menyentuh angka Rp41.354 per kilogram.

Pada saat yang sama, komoditas karet dengan parameter kadar karet kering 30 persen terdata berada pada rentang Rp12.406 per kilogram.

Lonjakan harga ini menjadi angin segar bagi para petani sesudah pada periode sebelumnya nilai jual karet sempat didera fluktuasi. Berubahnya iklim pasar menjadi lebih kondusif ini diharapkan mampu mendongkrak taraf pendapatan petani sekaligus memicu gairah produktivitas lahan perkebunan rakyat.

Berdasarkan pandangan Rudy, aspek kualitas memegang peranan paling krusial dalam mengukur nilai jual komoditas karet. Kian tinggi tingkat kadar karet kering yang mampu diproduksi, maka makin melambung pula nominal harga yang berhak didapatkan oleh pihak petani.

"Mutu menjadi kunci utama dalam menentukan harga jual karet di tingkat petani," ujarnya, Senin, 8 Juni 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pihaknya memaparkan, derajat kualitas komoditas bahan olahan karet milik rakyat sejauh ini memang masih bervariasi lantaran dipengaruhi oleh mekanisme proses penyadapan, tata cara pengolahan, sampai dengan metode penyimpanan hasil panen. Oleh sebab itu, para petani wajib mencermati tiap-tiap fase produksi supaya kualitas produk karet senantiasa terawat.

Bukan cuma memacu mutu, kelompok petani pun diingatkan agar menjauhi praktik pencampuran zat asing lainnya yang punya potensi merusak kualitas murni karet. Kebijakan mandiri ini dipandang sangat esensial demi merawat loyalitas dari pihak penyerap atau pembeli sekaligus memperkokoh daya saing komoditas karet asal Sumatera Selatan.

Rudy memberikan penilaian bahwa kecenderungan kenaikan harga pada saat ini sewajarnya dioptimalkan sebagai momentum berharga untuk membenahi kualitas hasil panen. Lewat standardisasi mutu yang apik, para petani bukan sekadar memetik keuntungan berupa harga yang lebih tinggi, melainkan juga menggenggam prospek penetrasi pasar yang jauh lebih lapang.

"Harga yang baik harus diimbangi dengan kualitas yang baik agar petani mendapatkan manfaat yang maksimal," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sampai dengan berakhirnya sesi perdagangan pada minggu pertama Juni 2026, grafik harga karet internasional dilaporkan masih bertahan di level yang superior jika disandingkan dengan posisi pada awal Mei lalu. Keadaan pasar tersebut meniupkan rasa optimisme bagi segenap pelaku usaha di sektor perkebunan karet di wilayah Sumatera Selatan.

Pihak Asosiasi Petani Karet Indonesia menaruh harapan besar agar kecenderungan positif ini dapat terus bergulir ke depan. Di lain pihak, agenda penguatan kualitas dari hasil panen tetap diposisikan sebagai fokus perhatian yang utama supaya kalangan petani sanggup meraup profit yang lebih optimal dari momentum membaiknya nilai jual karet di pasaran.

Terkini