Telkom Indonesia Alokasikan Dividen Rp21,9 Triliun Tahun 2026

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:01:10 WIB
Ilustrasi Dividend yield saham TLKM mencapai 9,4% (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terkoreksi cukup dalam pada kurun waktu belakangan. Uniknya, saham berkategori blue chip ini bersiap mengucurkan dividen bernilai besar menyentuh Rp 22.100 untuk setiap lotnya.

Agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin (8/6) resmi menyepakati pengalokasian dividen tunai dengan total nominal Rp21,9 triliun kepada para pemilik saham TLKM.

Merujuk pada besaran angka itu, estimasi dividen saham TLKM berada di kisaran Rp221 untuk tiap lembar saham. Dengan begitu, tiap satu lot saham TLKM berhak memperoleh dividen sejumlah Rp 22.100 sebelum dikenai potongan pajak.

Istimewanya, total dividen yang disalurkan mencakup 123% dari perolehan laba bersih sepanjang tahun buku 2025. Hal ini dapat terjadi lantaran dana sekitar Rp4,2 triliun untuk alokasi dividen tersebut diambil dari pos laba ditahan pada periode tahun-tahun sebelumnya.

Kuantitas dividen ini memosisikan TLKM ke dalam jajaran emiten dengan pembagian dividen paling masif di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.

Melalui penawaran dividen senilai Rp221 per saham, TLKM menyajikan persentase dividend yield yang sangat menggiurkan. Pada penutupan sesi perdagangan Senin, 8 Juni 2026, nilai saham TLKM bertengger di angka Rp 2.350 setelah ambles sedalam 14,86% atau terpangkas 410 poin dalam kurun harian. Apabila dihitung sepanjang tahun berjalan, harga saham TLKM tercatat sudah merosot sebanyak 32,28% atau menyusut 1.120 poin.

Berpatokan pada harga paling aktual, raihan yield dividen TLKM menyentuh angka 9,4%. Kalkulasi tersebut mengukuhkan saham TLKM sebagai salah satu instrumen blue chip yang menyuguhkan imbal hasil dividen paling superior di bursa saham saat ini.

Nilai dividend yield yang kompetitif umumnya menjadi daya pikat utama bagi kalangan investor yang memburu pendapatan pasif dari instrumen ekuitas, terlebih di kala situasi ekonomi global diliputi ketidakpastian serta pasar keuangan bergerak volatil.

Berdasarkan ketetapan dalam forum RUPST, pendistribusian dana dividen dijadwalkan bakal dilangsungkan pada bulan Juli 2026. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan pembayaran dividen tersebut akan dilakukan selambat-lambatnya pada 10 Juli 2026.

“Adapun yang berhak menerima dividen adalah para pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham TLKM pada penutupan perdagangan 19 Juni 2026,” jelas Dian, Senin (8/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Oleh sebab itu, para pelaku pasar perlu mencermati ketetapan tanggal cum dividen maupun ex dividen yang nantinya dirilis secara resmi oleh manajemen perseroan bersama pihak Bursa Efek Indonesia.

Di tengah terpaan hambatan pada industri telekomunikasi serta situasi kompetisi yang kian sengit, Telkom terpantau tetap mengamankan fondasi bisnis yang kuat di sepanjang periode 2025. Pihak perseroan membukukan rincian sebagai berikut:

  • Pendapatan senilai Rp146,74 triliun
  • EBITDA sebesar Rp72,24 triliun
  • Laba bersih mencapai Rp17,81 triliun

Pihak manajemen memberikan klarifikasi bahwa penurunan laba bersih dipicu oleh adanya akselerasi depresiasi yang menjadi bagian dari skema program total governance reset. Walau demikian, konsekuensi tersebut bersifat non-cash atau tidak melibatkan aliran kas keluar, sehingga stabilitas arus kas internal perusahaan dipastikan tidak terganggu.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengutarakan bahwa kebijakan terkait penentuan besaran dividen telah mempertimbangkan prinsip keseimbangan antara aspek pengembalian keuntungan bagi pemegang saham dengan pemenuhan alokasi investasi jangka panjang.

Menurut pemaparan Dian, pihak perseroan dinilai sukses memelihara fundamental bisnis serta mengokohkan kondisi arus kas, terlepas dari berbagai tekanan industri yang datang menghadang sepanjang tahun 2025.

Bukan cuma menyajikan tingkat dividend yield yang kompetitif, TLKM hingga kini tetap memegang status sebagai salah satu pemain telekomunikasi papan atas di Tanah Air dengan kuantitas basis pelanggan yang masif serta sokongan profit yang solid dari lini bisnis data dan digital.

Berangkat dari kebijakan alokasi dividen yang menembus lebih dari 100% laba bersihnya, para penanam modal diprediksi akan terus memantau kapasitas perseroan dalam menjaga tren pertumbuhan bisnis, sekaligus mempertahankan performa kebijakan dividen yang atraktif pada masa-masa yang akan datang.

Bagi kelompok pemodal pemburu dividen, saham TLKM tergolong sebagai salah satu aset yang layak masuk radar perhatian menjelang bergulirnya siklus cum dividen, mengingat saham ini menawarkan perpaduan antara profil saham keping biru, fundamental kokoh, serta ekspektasi dividend yield di atas level 9%

Tim analis dari BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa tren penurunan harga saham TLKM diakibatkan oleh kombinasi antara faktor internal fundamental serta dinamika sentimen pasar.

Perolehan laba bersih dari TLKM untuk periode kuartal I-2026 terdata berada di angka Rp4,34 triliun, alias terkoreksi menyusut 22% bila disandingkan secara tahunan (year on year/yoy). Melorotnya capaian laba tersebut memicu timbulnya rasa cemas di kalangan pelaku pasar seputar potensi perlambatan akselerasi kinerja korporasi.

Di samping itu, pemodal internasional kedapatan melangsungkan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai berkisar Rp314 miliar sepanjang kurun waktu satu bulan belakangan, sebuah indikator yang memperlihatkan bahwa beban distribusi saham masih terus membayangi.

Di sisi lain, pasar juga sedang mengamati perkembangan isu seputar dugaan kasus pengadaan barang dan jasa yang menyeret nama Telkom, sehingga berpotensi memicu kekhawatiran terhadap risiko reputasi internal korporasi.

Berdasarkan analisis teknikal, pengamat pasar menilai pergerakan saham TLKM telah menjebol area support penting pada level Rp2.800, yang pada periode sebelumnya bertindak sebagai koridor neckline dari pola Head and Shoulders.

Koreksi teknikal ini disinyalir membuka peluang terjadinya pelemahan lanjutan menuju area support berikutnya pada rentang harga Rp2.300 sampai dengan Rp2.050.

Terkini