Emas Dunia Pulih, Harapan Damai Israel-Iran Redam Tekanan Pasar

Selasa, 09 Juni 2026 | 11:56:38 WIB
Ilustrasi Harga emas spot naik ke US$4.329,98 per ons troi pasca pelemahan hampir tiga bulan. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai komoditas emas internasional sukses memulihkan diri dari posisi paling rendah dalam kurun waktu hampir tiga bulan pada sesi perdagangan Senin (8/6/2026). Ekspektasi tercapainya kesepakatan damai antara pihak Israel dan Iran menjadi stimulus yang membantu logam mulia mengikis sebagian beban pelemahan yang sempat membayangi di awal pembukaan sesi pasar.

Harga emas spot berakhir dengan kenaikan tipis sebesar 0,02% menuju angka US$4.329,98 per ons troi, setelah sempat merosot ke level terendah sejak 23 Maret di posisi US$4.268,39 per ons troi. Di lain pihak, kontrak emas berjangka AS untuk jadwal distribusi Agustus terpantau melemah 0,26% ke level US$4.353,8 per ons troi.

Atmosfer pasar terpantau membaik pasca-pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebutkan bahwa Israel dan Iran tengah mengupayakan gencatan senjata segera. Berdasarkan penuturan Trump, proses perundingan akhir demi mewujudkan perdamaian masih terus digulirkan.

Wakil Presiden sekaligus Kepala Strategi Logam Mulia Zaner Metals, Peter Grant, memaparkan, embusan kabar seputar peluang tercapainya nota kesepahaman gencatan senjata tersebut menjadi elemen penggerak utama yang mendongkrak nilai emas merangkak naik dari zona terendahnya.

“Kami berhasil bangkit dari level terendah yang terjadi pada sesi perdagangan luar negeri setelah muncul berita mengenai kemungkinan gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Berita tersebut mengurangi tekanan penurunan harga emas,” ujar Grant, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selaku instrumen safe haven, emas secara konvensional menjadi opsi prioritas bagi para pelaku pasar tatkala tensi geopolitik memanas. Walau demikian, prospek tercapainya rekonsiliasi di kawasan Timur Tengah berpeluang menekan risiko inflasi akibat lonjakan harga sektor energi, sekaligus mereduksi urgensi bagi bank sentral untuk mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam interval waktu jangka panjang.

Kendati mampu merangkak naik dari zona terendah, akselerasi penguatan nilai emas masih tertahan oleh keperkasaan mata uang dolar AS yang kokoh bertengger di kisaran level tertinggi dalam waktu hampir dua bulan belakangan.

Mata uang dolar AS memperoleh suntikan energi positif sehabis data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada pekan lalu menunjukkan performa pasar tenaga kerja yang berada di atas ekspektasi. Realitas tersebut mendorong para pelaku pasar mempertebal dugaan bahwa The Fed masih mempunyai ruang untuk mendongkrak tingkat suku bunga acuan sebelum penutupan tahun.

Penguatan kurs dolar AS ini berakibat pada harga emas serta komoditas lain yang ditransaksikan dengan mata uang AS menjadi relatif lebih mahal bagi para investor yang memegang mata uang asing lainnya, sehingga berisiko menekan angka permintaan pasar.

Merujuk pada alat FedWatch milik CME Group, peluang bagi kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember nanti kini menyentuh angka 43%, naik drastis jika disandingkan dengan estimasi sebulan lalu yang hanya berkisar 14%.

Atensi pasar selanjutnya akan diarahkan pada laporan inflasi AS yang dijadwalkan meluncur pada pekan ini. Otoritas pemerintah AS diagendakan merilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) periode Mei pada hari Rabu (10/6/2026), yang kemudian disusul oleh data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada hari Kamis (11/6/2026).

Kedua indikator perekonomian tersebut dinilai akan menjadi instrumen petunjuk krusial mengenai haluan kebijakan moneter dari The Fed untuk kurun waktu beberapa bulan ke depan.

Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, berpendapat bahwa harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan andaikata rilis data inflasi AS kedapatan lebih tinggi dari estimasi semula, atau apabila pihak The Fed memberikan indikasi kebijakan yang lebih agresif (hawkish) dalam forum Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan.

Menurut pandangannya, dalam konstelasi skenario seperti itu, nilai emas memiliki probabilitas untuk menguji level psikologis penting pada angka US$4.000 per ons troi sebagai zona penopang yang utama.

Pada sektor komoditas logam mulia sejenis, nilai perak spot terpantau terangkat naik 0,5% menuju posisi US$68,18 per ons troi. Sebaliknya, platinum mencatatkan penurunan sebesar 1.031.761,96 per ons troi, sedangkan komoditas paladium melemah 0,85% menuju harga US$1.219,35 per ons troi.

Terkini