JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih memiliki risiko besar untuk meneruskan tren penurunan pada sesi perdagangan hari ini, Senin (8/6/2026).
Di sisi lain, pada sesi penutupan sebelumnya, IHSG tercatat merosot hingga 4,2% menuju posisi 5.594 yang dibarengi dengan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp 3,72 triliun di pasar reguler.
Kemunduran pasar modal ini dipicu oleh meningkatnya kecemasan para pemodal terhadap tekanan yang menimpa nilai tukar rupiah, dampak dari revisi UU P2SK atas penilaian independensi otoritas keuangan, serta dinamika penilaian terhadap peringkat kredit Indonesia.
"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan potensi volatilitas yang tinggi. Area 5.555–5.480 menjadi support krusial, sementara 5.700–5.800 menjadi resistance terdekat," sebagaimana dilansir dari berita sumber tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasan harian yang dirilis Senin (8/6/2026).
Berdasarkan penilaian dari perusahaan perantara pedagang efek tersebut, para pelaku pasar bakal memfokuskan perhatian pada publikasi data cadangan devisa serta dinamika kurs rupiah yang menjadi indikator utama dalam menentukan arah pergerakan pasar ke depan.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks saham di bursa Wall Street Amerika Serikat terpantau berakhir di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menyusut sebesar 1,35% menuju level 50.866,7. Sejalan dengan itu, indeks S&P 500 melemah sebanyak 2,64% ke posisi 7.383,7, dan indeks Nasdaq Composite melosot 4,18% hingga mendarat di posisi 25.709,4.
Menghadapi situasi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyodorkan saham DAAZ serta PSAB sebagai pilihan menarik untuk aktivitas trading pada Senin (7/6/2026).