Perluas Jaringan, Alfamart Targetkan Buka Ratusan Gerai Baru di Tiga Negara

Senin, 08 Juni 2026 | 11:14:46 WIB
Pegawai Ritel Alfamart (Foto: NET)

JAKARTA – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) atau Alfamart kembali melakukan ekspansi pada 2026 dengan memprioritaskan penguatan jaringan ritelnya, baik di pasar domestik maupun internasional.

Perusahaan ritel ini memproyeksikan penambahan hingga 1.080 gerai baru sepanjang 2026 melalui langkah ekspansif di kancah global. Selain berencana mendirikan 800 toko baru di dalam negeri, perusahaan juga menyasar penambahan 200-250 gerai di Filipina serta kurang lebih 30 gerai di Bangladesh demi memperlebar sayap bisnis eksternalnya.

Corporate Secretary AMRT Tomin Widian menyebutkan bahwa target pendirian 800 gerai baru di Indonesia pada tahun ini sepenuhnya dialokasikan untuk jaringan Alfamart.

Tidak hanya fokus di pasar lokal, perusahaan juga terus menggulirkan ekspansi internasional, khususnya ke Filipina yang dinilai masih menyimpan potensi pertumbuhan bisnis yang menjanjikan.

Untuk area Filipina, Alfamart membidik pembukaan berkisar 200 sampai 250 toko baru di sepanjang tahun 2026. Wilayah ini menjadi pasar internasional terbesar bagi perusahaan saat ini dan senantiasa memperlihatkan performa yang positif.

Di sisi lain, untuk pasar Bangladesh, AMRT menerapkan langkah yang cenderung hati-hati karena aktivitas operasional di sana masih berada di fase awal.

"Kalau di Bangladesh karena kami masih baru, targetnya tidak tinggi. Mungkin sekitar 30 toko dulu. Kami belajar dulu di negara orang," sebagaimana dilansir dari berita sumber saat ia berbicara dalam Public Expose, Minggu (7/6/2026).

Manajemen memperkirakan kebutuhan dana investasi per toko di luar negeri berada di kisaran Rp1,5 miliar. Melalui target pendirian sekitar 200 gerai di Filipina, total modal yang dibutuhkan menyentuh angka sekitar Rp300 miliar. Kendati demikian, lantaran porsi kepemilikan Alfamart Indonesia di bisnis Filipina hanya sebesar 35%, maka dana kontribusi yang wajib disiapkan korporasi diestimasi berkisar Rp100 miliar.

"Kalau di Filipina investasinya lebih mahal. Kalau 200 toko sekitar Rp300 miliar, tetapi karena kepemilikan kami hanya 35%, maka kontribusi dari Alfamart Indonesia kurang lebih sekitar Rp100 miliar," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, untuk wilayah domestik, AMRT memproyeksikan pendirian 800 toko baru Alfamart di sepanjang tahun ini. Skema pembangunannya dibagi menjadi dua, yakni sekitar 500 toko akan dikelola langsung sebagai milik korporasi, sedangkan 300 toko sisanya bakal dijalankan lewat sistem waralaba (franchise).

Demi menyokong agenda ekspansi tersebut, manajemen mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) berkisar Rp500 miliar yang diprioritaskan bagi pendirian gerai-gerai baru milik internal perusahaan. Tomin memaparkan, ongkos rata-rata untuk mendirikan satu gerai baru saat ini berada di kisaran Rp1 miliar. Sesuai rencana, porsi di atas 50% dari pembukaan toko baru tersebut bakal dipusatkan ke wilayah luar Pulau Jawa.

Pihak manajemen mengamati adanya pergeseran tren pertumbuhan sektor ritel modern dalam lima tahun belakangan, di mana pertumbuhan bergerak dari kawasan Jabodetabek menuju berbagai wilayah di luar Pulau Jawa yang tingkat penetrasi pasar ritelnya masih tergolong rendah.

Selama periode semester I/2026, Alfamart terpantau sudah mengoperasikan sekitar 167 gerai baru, sementara Alfamidi menambah 42 toko. Sebagai perbandingan, di sepanjang tahun 2025 yang lalu, kelompok usaha Alfamart, Alfamidi, serta Dan+Dan secara akumulatif telah mendirikan 1.057 toko baru.

Memasuki triwulan pertama tahun ini saja, grup ini telah mengoperasikan tambahan 211 gerai baru dan mematok target total pembukaan toko sepanjang 2026 bisa melewati pencapaian tahun sebelumnya.

Langkah ekspansif ini tetap digulirkan di tengah berbagai hambatan industri ritel, mulai dari tekanan pada daya beli masyarakat, pelemahan kurs rupiah, hingga risiko kenaikan harga pasokan dari pihak mitra/pemasok. Meski begitu, manajemen tetap menaruh optimisme bahwa pertambahan jaringan toko akan menjadi motor penggerak utama bagi performa keuangan perusahaan pada tahun ini.

Kendati dibayangi oleh situasi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, depresiasi mata uang rupiah, serta ancaman kenaikan harga produk dari pemasok, manajemen tetap percaya diri mampu menjaga tren pertumbuhan kinerja di tahun ini.

Tomin tidak menampik bahwa dinamika yang membayangi industri ritel pada 2026 tergolong berat. Namun, hingga kini perusahaan masih memegang teguh target usaha yang sudah disusun dan belum menetapkan adanya perubahan anggaran belanja.

"Kami masih stick dengan budget dan belum melakukan adjustment. Walaupun banyak tantangan, kami masih mengupayakan yang terbaik untuk bisa mencapai target-target tersebut," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun tidak memaparkan secara rinci mengenai proyeksi angka pendapatan atau laba bersih, pihak manajemen menargetkan capaian tahun ini setidaknya tidak berada di bawah realisasi tahun sebelumnya.

"Yang bisa saya sampaikan, kami mengupayakan hasil yang lebih baik dibandingkan 2025," sebagaimana dilansir dari berita sumber yang menjadi penutup penjelasan Tomin.

Terkini