BEI dan OJK Sebut Fundamental Emiten Solid, 80 Persen Raih Laba

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:16:03 WIB
Ilustrasi logo OJK dan BEI (Gambar: NET)

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa masih kuat di tengah tekanan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pelaksana Tugas (Pjs.) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menuturkan bahwa rata-rata pertumbuhan laba bersih emiten dalam indeks LQ45 mencapai 29,9 persen pada kuartal I/2026. Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kondisi fundamental korporasi di pasar modal Indonesia tetap terjaga.

“Dalam kuartal I/2026, emiten-emiten LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9 persen,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tidak hanya dari sisi pertumbuhan laba, mayoritas perusahaan tercatat juga masih mampu mencetak keuntungan. Jeffrey mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen emiten di Bursa berhasil membukukan laba bersih pada kuartal pertama tahun ini.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya sekitar 63 persen perusahaan tercatat yang mencatat laba bersih. Kemudian pada periode 2021 hingga 2025, persentasenya berada di kisaran 73 persen hingga 76 persen.

“Kuartal I/2026 ada 80 persen perusahaan tercatat yang membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Jeffrey menilai data tersebut menunjukkan bahwa kondisi fundamental emiten di Indonesia masih relatif sehat meskipun pasar saham sedang menghadapi tekanan yang cukup besar. Oleh karena itu, BEI mengimbau investor agar tetap mengutamakan analisis fundamental dalam mengambil keputusan investasi dan tidak hanya berfokus pada fluktuasi harga saham jangka pendek.

“Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan investor untuk mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan berinvestasi sesuai profil risiko masing-masing,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi kebijakan, Jeffrey menegaskan sejumlah langkah stabilisasi pasar yang diterapkan BEI sebelumnya masih berlaku hingga saat ini. Beberapa kebijakan tersebut mencakup ketentuan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta penundaan pelaksanaan short selling. Menurutnya, kebijakan ini tetap menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Jeffrey juga membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai kemungkinan Indonesia diturunkan peringkatnya oleh MSCI dari kategori emerging market menjadi frontier market. Ia menegaskan hingga saat ini tidak ada keputusan seperti yang beredar di media sosial tersebut.

“Terkait MSCI, yang dapat kami sampaikan adalah dari hal-hal konkret yang sudah kami lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap berada di emerging market,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kondisi fundamental pasar modal Indonesia masih terjaga meskipun kinerja IHSG mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan sejumlah indikator utama pasar modal domestik masih menunjukkan kondisi yang relatif baik di tengah volatilitas yang meningkat.

Menurut Hasan, hal tersebut tercermin dari nilai transaksi dan likuiditas pasar saham yang masih terjaga pada level tinggi. Adapun, rata-rata spread bid dan ask pada Mei 2026 terjaga di tingkat yang rendah pada level 1,5 persen. Hal ini dinilai mencerminkan likuiditas pasar yang masih terjaga dengan baik.

"Tentu di tengah dinamika dan tekanan pasar tersebut, kami juga dapat menyampaikan bahwa sebetulnya secara fundamental pasar modal Indonesia dan juga kinerja emiten secara umum tercatat masih menunjukkan angka-angka yang baik," katanya dalam konferensi pers hasil RDKB OJK, Jumat (5/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain dari sisi aktivitas pasar, OJK juga mencatat kinerja korporasi masih menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan laporan keuangan emiten periode kuartal I/2026, perusahaan tercatat diklaim masih membukukan laba dan mempertahankan pertumbuhan kinerja. Hasan menjelaskan bahwa laba emiten secara agregat pada tiga bulan pertama tahun ini tumbuh lebih dari 21 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Hasan berharap investor dapat memperhatikan data historis kinerja emiten hingga mencermati proyeksi dan perhitungan konsensus kinerja emiten ke depan untuk menilai fundamental suatu perusahaan. OJK berharap investor dapat mempertimbangkan berbagai informasi fundamental secara rasional dengan tetap memperhitungkan berbagai risiko yang berkembang di pasar.

”Tentu dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang berkembang sebagai dampak dari berbagai faktor yang terjadi, ini yang kami harapkan terus menjadi bagian pertimbangan rasional untuk strategi investasi para investor ke depannya," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini