JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami tekanan sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup pada level 5.839 di perdagangan Kamis, 4 Juli 2026, yang mencerminkan penurunan sekitar 33,25% sejak awal tahun.
Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akibat volatilitas yang terus berlanjut di bursa domestik. Namun, di tengah sentimen negatif tersebut, investor kawakan Lo Kheng Hong justru memandang kondisi saat ini sebagai peluang.
Menurutnya, pelemahan harga saham unggulan akibat keluarnya dana asing dari pasar Indonesia menjadi momentum untuk mengakumulasi saham dengan valuasi yang lebih menarik.
Lo Kheng Hong menyebut kondisi pasar saat ini sebagai “hujan emas” di Bursa Efek Indonesia. Menurutnya, ketika dana asing keluar dan harga saham blue chip mengalami penurunan signifikan, investor justru memiliki kesempatan untuk memperoleh saham berkualitas dengan harga yang lebih murah.
"Saat ini sebagai hujan emas yang perlu ditampung menggunakan ember besar", sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Keyakinan Lo Kheng Hong tercermin dari aktivitas pembelian saham yang terus ia lakukan dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa emiten yang menjadi fokus akumulasi antara lain PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP), di mana ia membeli 1,60 juta saham pada 29 Mei 2026 sehingga kepemilikan meningkat menjadi 5,14%.
Selain itu, pada PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL), ia membeli 353.500 saham pada awal Mei 2026 dengan total kepemilikan menjadi 233,14 juta saham atau 6,69%. Ia juga memegang portofolio di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) serta PT ABM Investama Tbk. (ABMM) dengan kepemilikan 155,38 juta saham atau 5,64%, yang berpotensi memberikan dividen sekitar Rp15,70 miliar.
Di tengah tekanan IHSG, pasar sempat diwarnai isu mengenai potensi penurunan status Indonesia dalam indeks MSCI. Namun, Bursa Efek Indonesia menegaskan bahwa kabar penurunan status tersebut tidak benar. Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan pihaknya optimistis Indonesia akan tetap berada dalam kelompok emerging market, didukung oleh berbagai langkah reformasi pasar modal yang telah dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
MSCI sendiri dijadwalkan merilis Market Accessibility Review pada Juni 2026 yang dinilai lebih substansial bagi pasar. Agenda tersebut dianggap lebih penting daripada review indeks reguler karena akan memberikan gambaran lebih jelas terkait aksesibilitas pasar Indonesia dan risiko perubahan status pasar di masa mendatang.