Konflik Mereda, Harga Minyak Brent dan WTI Merosot Tajam

Jumat, 05 Juni 2026 | 11:12:45 WIB
Seorang pekerja mengoperasikan katup di ladang minyak Rumaila, saat negara tersebut memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari di tengah penghentian ekspor menyusul penutupan Selat Hormuz. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai dagang minyak internasional berakhir merosot tajam pada sesi perdagangan Kamis (4/6/2026), selaras dengan kian tebalnya optimisme pasar akan tercapainya titik temu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pasca disepakatinya gencatan senjata oleh Israel dan Lebanon.

Nilai minyak mentah jenis Brent ditutup menyusut US$ 2,78 (2,84 persen) menuju level US$ 95,03 per barel. Selaras dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS terpangkas US$ 2,98 (3,1 persen) ke posisi US$ 93,04 per barel.

Kondisi psikologis pasar berangsur membaik sesudah pihak Israel dan Lebanon pada Rabu malam waktu setempat mengumumkan kesepahaman untuk memberlakukan gencatan senjata. Dinamika baru ini menumbuhkan ekspektasi bahwa dialog damai antara pihak Washington dan Teheran bisa kembali bergulir.

Otoritas Iran sebelumnya menetapkan syarat berupa penghentian konfrontasi antara Israel dan Hizbullah, kelompok di Lebanon yang disokong Teheran, sebagai bagian dari tahapan menuju kesepakatan yang berskala lebih masif.

"Pasar kembali memberikan bobot penuh pada harapan penyelesaian konflik. Kekhawatiran terhadap pasokan minyak saat ini nyaris tidak diperhitungkan oleh pelaku pasar," ujar Mitra Again Capital John Kilduff, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pandangannya, perkembangan paling baru yang melibatkan Israel dan Lebanon tersebut sukses mengikis sentimen bullish yang pada sesi sebelumnya sempat mendongkrak nilai minyak.

Pada sesi perdagangan terdahulu, nilai minyak sempat melesat di kisaran 2 persen dipicu oleh memanasnya tensi politik di Timur Tengah, termasuk adanya aksi gempuran Iran ke Kuwait serta aktivitas militer AS di sekitar Selat Hormuz.

Kendati begitu, harapan akan terciptanya perdamaian kembali menguasai pasar. Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler, menduga bahwa kesepakatan damai antara Israel dan Lebanon berpeluang besar melapangkan jalan untuk kelanjutan proses negosiasi antara AS dan Iran.

Ia menambahkan bahwa arus lalu lintas pelayaran di kawasan Selat Hormuz sejauh ini terpantau masih sangat terbatas. Meski demikian, pergerakan sejumlah armada kapal yang mulai mendekati kawasan Teluk Persia dinilai menjadi indikator positif bahwa jalur vital tersebut berpeluang kembali beroperasi dalam waktu dekat.

Di tengah tren penurunan harga minyak, sederet faktor fundamental sebenarnya masih mengindikasikan situasi persediaan yang relatif ketat. Giovanni Staunovo selaku Analis UBS menilai bahwa arah pergerakan harga minyak tetap berpotensi melaju naik sepanjang pasokan di pasar masih mengalami gangguan.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak membeberkan bahwa output produksi minyak negaranya mengalami penyusutan sejak awal tahun yang disebabkan oleh agenda pemeliharaan kilang di luar rencana. Pemaparan tersebut menjadi pengakuan perdana dari pejabat tinggi Rusia terkait penurunan kapasitas produksi minyak di negara beruang putih tersebut.

Dari sisi persediaan, stok minyak mentah milik AS dilaporkan berkurang hingga 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada periode pekan yang berakhir 29 Mei, bersandar pada data milik Energy Information Administration (EIA).

Penyusutan stok ini tercatat jauh melampaui perkiraan para analis yang sebelumnya memproyeksikan penurunan di kisaran 4 juta barel saja. Di lain pihak, komoditas minyak asal Iran mulai dilepas dengan skema potongan harga untuk pertama kalinya sejak bulan April lalu.

Nilai premium untuk minyak Rusia juga dilaporkan melemah imbas langkah para pedagang memangkas harga guna memikat gairah para pembeli dari China yang tingkat permintaannya terpantau masih lesu.

Kendati kemelut di Timur Tengah serta pemblokiran Selat Hormuz masih berlangsung, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) terpantau tetap berpegang teguh pada proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global yang solid untuk tahun ini.

Terkini