Dampak Rupiah Melemah, Peritel RANC dan MIDI Mulai Sesuaikan Harga

Jumat, 05 Juni 2026 | 10:33:31 WIB
Sejumlah peritel seperti MIDI dan RANC mulai menyesuaikan harga produk akibat pelemahan rupiah (Foto: NET)

JAKARTA – Sejumlah pelaku usaha ritel menyampaikan bahwa mereka telah melakukan penyesuaian terhadap kenaikan harga produk-produk yang memiliki kandungan bahan baku impor di tingkat konsumen.

Langkah ini diambil seiring dengan masih terus berlangsungnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data dari TradingView, nilai tukar rupiah terpantau mengalami koreksi yang kian mendalam hingga melewati level Rp18.020 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).

Direktur Finance PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), Suantopo Po, menjelaskan bahwa komoditas ritel yang memakai unsur impor seperti susu, kacang hijau, hingga kedelai menjadi produk yang paling rentan terkena dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah tersebut. Menurut penjelasannya, jika terjadi peningkatan harga dari pihak produsen akibat depresiasi rupiah, maka pihak peritel pun mau tidak mau akan menyesuaikan harga jualnya.

"Contohnya, seperti susu atau bahkan kacang hijau atau kedelai, impor pasti. Produk yang menggunakan bahan baku tersebut pasti akan mengalami [kenaikan biaya]. Pada prinsipnya, apabila ada kenaikan harga, ya, pasti otomatis kami akan menaikkan harga juga," ujar Suantopo Po, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski begitu, ia memberikan penegasan bahwa peritel pada hakikatnya hanya bertindak sebagai rantai distribusi yang mengikuti regulasi harga yang dikeluarkan oleh pihak penyuplai.

"Kami adalah retailer. Jadi mungkin ada atau tidak ada kenaikan harga kembali tergantung pada pabrikan," ucap Suantopo Po, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah situasi tekanan ekonomi tersebut, MIDI menyatakan tetap optimis menatap prospek bisnis pada tahun ini. Pihak perseroan melihat bahwa sektor ritel yang bergerak di bidang kebutuhan pokok harian masih mempunyai sifat defensif, sehingga relatif lebih tangguh dalam melewati berbagai macam guncangan ekonomi.

Selain berfokus mengekspansi jaringan bisnisnya, perseroan juga terus memperkuat ekosistem digitalnya lewat pengembangan aplikasi belanja daring bernama Midi Kriing agar menjadi semakin ramah pengguna. Sampai dengan akhir tahun 2025, total jumlah anggota Alfamidi sudah menembus angka 7,02 juta pelanggan, yang memberikan kontribusi mencapai 49,8 persen dari total keseluruhan penjualan perseroan.

Dalam melewati situasi pasar yang kian kompetitif, Alfamidi pun menerapkan strategi optimalisasi jaringan gerai lewat analisis preferensi dari para pelanggan demi menyesuaikan ketersediaan barang, menyajikan program promosi yang relevan, serta memberikan pengalaman berbelanja yang jauh lebih personal untuk para konsumen.

Sikap yang senada juga diutarakan oleh manajemen pengelola Ranch Market, yakni PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC). Pihak perseroan membenarkan bahwa langkah penyesuaian harga memang sudah mulai diterapkan pada sebagian besar produk yang disalurkan oleh vendor.

Direktur RANC, Hady Purnama, memaparkan bahwa lonjakan harga jual tersebut sejatinya bermula dari para pemasok yang sudah lebih dahulu melakukan penyesuaian harga akibat beban biaya operasional yang mereka tanggung.

"Sebagian besar sudah ada penyesuaian, karena pihak vendornya sendiri sudah melakukan penyesuaian harga," tutur Hady Purnama, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pihak perseroan memantapkan pilihan untuk lebih fokus dalam mengawal pertumbuhan penjualan dengan cara mendongkrak daya tarik gerai serta memperkuat skema promosi mereka di tengah situasi daya beli masyarakat yang masih lesu disertai nilai tukar rupiah yang terus-menerus tertekan.

Pihak manajemen memproyeksikan bahwa kesuksesan dalam menjaga stabilitas angka kunjungan pelanggan akan menjadi instrumen yang sangat krusial dalam mengejar target pendapatan di tahun ini.

"Kami akan terus berusaha dengan kondisi daya beli masyarakat yang lemah dan nilai rupiah yang terus turun. Bagaimana caranya bisa memberikan penawaran produk yang menarik, promo yang tepat sasaran, kondisi toko yang menyenangkan, pengalaman berbelanja yang lebih dari sekadar belanja, sehingga bisa menarik trafik pelanggan ke toko kami," ungkap Hady Purnama, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan pandangannya, kualitas operasional toko adalah kunci utama guna mempertahankan loyalitas dari para pelanggan di tengah situasi kompetisi industri ritel yang kian ketat saat ini.

"Harapannya dengan proses operasional yang baik, customer kami tetap setia dan tetap berbelanja di kami, sehingga target pendapatan yang kami letakkan untuk tahun ini bisa dicapai," pungkas Hady Purnama, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini