Ekonomi Kuartal II dan III Diperkirakan Melorot Imbas BI Rate 5,25 Persen

Jumat, 22 Mei 2026 | 10:24:55 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi lambat (Gambar: NET)

JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) ke level 5,25% diproyeksikan akan mulai memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II dan III-2026.

Di tengah langkah BI dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan inflasi, pemerintah diharapkan segera memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menggenjot belanja produktif agar penurunan ekonomi tidak terjadi semakin dalam.

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai bahwa kenaikan BI rate sebanyak 50 basis poin (bps) ini memang diperlukan demi menjaga stabilitas mata uang rupiah dan mengontrol ekspektasi inflasi.

Kendati demikian, langkah pengetatan moneter ini juga berisiko memberikan tekanan pada tingkat konsumsi rumah tangga, investasi, penyaluran kredit, hingga kinerja pasar saham.

Berdasarkan hitungannya, pengetatan bunga acuan sebesar 50 bps berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,4 hingga 0,7 poin persentase dari target awal. 

ika sebelumnya prediksi pertumbuhan ekonomi untuk kuartal II-2026 dipatok pada kisaran 5,5%-5,7%, maka pasca-kenaikan suku bunga tersebut, angka pertumbuhan yang lebih realistis diproyeksikan menurun ke level 5,1%-5,2%.

Sementara untuk kuartal III-2026, laju perekonomian diperkirakan berada di rentang 4,9%-5,1%. Oleh sebab itu, Syafruddin menyarankan pemerintah untuk segera menyusun langkah mitigasi agar dampak negatif pada ekonomi domestik tidak melebar.

"Pemerintah harus segera menahan dampak lanjutannya melalui belanja produktif, perlindungan daya beli, dan percepatan investasi," ujar Syafruddin, Kamis (21/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa industri properti, otomotif, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan menjadi sektor yang paling rentan terkena imbas kenaikan suku bunga. Hal ini dikarenakan sektor-sektor tersebut sangat sensitif terhadap fluktuasi bunga kredit serta penurunan daya beli masyarakat.

Rizal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2026 masih berpotensi bertahan pada rentang 5,1%-5,3%. Namun, saat memasuki kuartal III-2026, laju pertumbuhan rawan melorot ke posisi 4,9%-5,1% apabila konsumsi masyarakat dan ekspansi kredit terus memperlihatkan penurunan.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Central Asia atau BCA, David Sumual, memperkirakan masih terbuka ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan hingga 50 bps tambahan sampai akhir tahun 2026.

Menurutnya, risiko tersebut muncul akibat ketidakpastian geopolitik global yang menahan harga energi di level tinggi, inflasi global yang memengaruhi selisih imbal hasil dengan bunga domestik, serta dampak El Niño ditambah depresiasi rupiah terhadap inflasi di dalam negeri.

Terkini