IHSG Anjlok, Saham Murah TLKM dan ICBP Diprediksi Paling Prospektif

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:34:45 WIB
Ilustrasi Investor Pusing IHSG Semakin Tak Berdaya (Gambar: NET)

JAKARTA – Volatilitas di bursa saham Indonesia terpantau masih berlanjut hingga pekan ketiga Mei 2026. Di kala fluktuasi pasar sedang tinggi, jajaran saham dengan valuasi murah serta tingkat likuiditas tinggi yang masuk dalam indeks IDX Value30 mulai diincar oleh pemodal sebagai instrumen defensif.

Performa dari indeks IDX Value30 kini tengah menyita perhatian. Menilik data Google Finance sampai Selasa (19/5/2026), IDX Value30 membukukan penurunan 9,56% selama sebulan belakangan menuju level 125. Walaupun terkoreksi, kemerosotan ini dinilai masih jauh lebih mendingan ketimbang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah amblas 16,11% pada kurun waktu yang sama ke posisi 6.370,68.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memaparkan ada sejumlah alasan yang menjadikan IDX Value30 cenderung lebih kebal menghadapi guncangan pasar. Pertama, deretan saham di IDX Value30 rata-rata mempunyai valuasi yang murah sehingga menawarkan margin of safety yang lebih lapang kala pasar berbalik arah.

Kedua, perusahaan-perusahaan di dalam IDX Value30 sebagian besar ditopang oleh fundamental kokoh dengan kondisi arus kas yang cukup kebal terhadap rotasi siklus pasar. Ketiga, tingginya aspek likuiditas saham membuat pelaku pasar institusional merasa lebih aman untuk menjaga posisi portofolio mereka di tengah situasi yang tidak menentu.

“Koreksi yang lebih rendah dibandingkan IHSG mengonfirmasi adanya migrasi investor ke saham berkualitas di tengah ketidakpastian,” ujar Abida, Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pandangan serupa dilontarkan oleh Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty yang berpendapat bahwa pelaku pasar sekarang ini condong mengalihkan modal dari saham growth serta saham berbeta tinggi menuju saham defensif yang ditopang valuasi atraktif.

Menurut penilaiannya, saham-saham penghuni IDX Value30 pada umumnya mengantongi price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang cenderung rendah, tetapi tetap disokong oleh profitabilitas dan arus kas yang konsisten.

Ditambah lagi, banyak anggota IDX Value30 yang bernaung di bawah sektor perbankan jumbo, telekomunikasi, energi, serta barang konsumsi yang mempunyai keunggulan berupa recurring income sekaligus dividend yield yang menggiurkan. Faktor-faktor inilah yang menjadikan saham-saham di IDX Value30 dinilai lebih tangguh menghadapi dinamika global, semisal pergolakan geopolitik, depresiasi kurs rupiah, hingga fenomena capital outflow.

Arinda mengimbuhkan bahwa saham yang bersandar pada nilai valuasi secara historis biasanya mampu mencetak performa prima (outperform) ketika pasar mulai memasuki tahapan awal pemulihan, mengingat harganya yang ekonomis dan lebih responsif dalam memikat atensi pemodal mancanegara.

Andai tekanan dari sentimen global berangsur menyusut—seperti melandainya yield obligasi Amerika Serikat (AS), kokohnya nilai tukar rupiah, hingga proyeksi pemangkasan suku bunga dunia—maka kelompok saham berkapitalisasi besar (big caps) di IDX Value30 berpeluang besar memimpin pembalikan arah (rebound) IHSG.

Kendati demikian, laju apresiasi IDX Value30 diproyeksikan bakal berjalan lebih lambat dibanding saham growth atau saham lapis dua karena pembawaan indeks ini yang condong defensif serta berbasis kuat pada fundamental.

Abida menganjurkan pemodal untuk mengawali aksi akumulasi secara berkala pada jajaran saham yang memiliki fundamental kokoh serta dividend yield yang menarik.

Pelaku pasar juga diimbau untuk mengamankan porsi dana tunai (cash) di kisaran 20%-25% sekaligus membatasi risiko pada emiten yang rentan terhadap fluktuasi dolar AS tanpa adanya natural hedge. Menurut pertimbangan Abida, waktu yang paling tepat untuk masuk ke pasar adalah di saat posisi rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda stabil dan tekanan aksi jual bersih (net sell) oleh pemodal asing mulai berkurang.

Di sisi lain, Arinda berpendapat bahwa jajaran saham di IDX Value30 sangat pas diaplikasikan untuk taktik investasi jangka menengah hingga panjang, khususnya bagi para pemodal yang lebih mengedepankan mutu fundamental ketimbang aksi spekulatif dalam durasi pendek.

Dari sekian banyak saham pengisi IDX Value30, Arinda menyodorkan rekomendasi untuk saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan patokan target harga Rp 3.900 per saham, serta PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan bidikan target harga Rp 10.000 per saham.

Posisi harga saham TLKM pada sesi perdagangan Selasa 19 Mei 2026 berakhir di level Rp 3.080, alias tidak mengalami perubahan secara harian. Walau demikian, harga saham emiten telekomunikasi milik negara ini tercatat sudah melorot sebanyak 390 poin atau setara 11,24% semenjak pembukaan tahun 2026.

Pada saat yang sama, harga saham ICBP ditutup melemah di zona Rp 6.725, tergerus 75 poin atau 1,10% secara harian. Performa harga saham ICBP sendiri dilaporkan sudah menyusut sebanyak 1.350 poin atau mencapai 16,72% sejak awal tahun 2026.

Terkini