Harga Minyak Brent Tembus US110 per Barel Imbas Konflik AS dan Iran

Senin, 18 Mei 2026 | 11:40:14 WIB
Ilustrasi Nilai jual minyak mentah dunia meneruskan tren penguatan (Gambar: NET)

JAKARTA - Nilai jual dari minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan selama tiga hari berturut-turut yang disebabkan oleh ketidakjelasan jalannya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Senin, 18 Mei 2026.

Perselisihan yang masih belum menemui titik temu ini berdampak pada tersumbatnya alur pasokan penting di kawasan Selat Hormuz. Peningkatan harga komoditas energi ini pun berhasil melewati batasan level psikologis yang baru.

Minyak mentah untuk jenis Brent terpantau merangkak naik hingga ke atas US$110 per barel setelah membukukan kenaikan mendekati angka 8 persen pada minggu lalu, sedangkan untuk jenis West Texas Intermediate (WTI) sukses melampaui level US$107 per barel.

Meningkatnya ketegangan situasi ini dipicu oleh semakin berkurangnya kesabaran politik pihak Washington terhadap Teheran terkait dengan pembukaan rute pelayaran yang sangat vital tersebut. Presiden AS Donald Trump melemparkan peringatan yang tegas mengenai batas waktu diplomasi melalui sebuah unggahan di akun media sosial pribadinya pada hari Minggu, 17 Mei 2026.

"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak maju, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU ADALAH HAL YANG PALING UTAMA!" tulis Trump sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kekhawatiran para pelaku pasar kian memuncak menyusul selesainya masa pelonggaran sanksi atas minyak Rusia oleh kabinet Trump serta adanya penolakan terhadap pengajuan perpanjangan yang diajukan oleh India. Di samping itu, adanya serangan pesawat tanpa awak (drone) di fasilitas nuklir milik Uni Emirat Arab pada akhir pekan lalu menjadikan kondisi gencatan senjata yang sedang berlangsung menjadi semakin rentan.

Media semi-pemerintah Iran, yakni Kantor Berita Mehr, memaparkan bahwa jalannya proses diplomasi terancam menghadapi jalan buntu. Pihak Iran menilai pihak Washington sama sekali tidak memberikan penawaran pengurangan sanksi yang nyata di dalam proses negosiasi tersebut.

"Tidak menawarkan konsesi nyata," kata Kantor Berita Mehr sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di pihak lain, pembahasan internal masih terus dimatangkan oleh jajaran Gedung Putih. Trump dilaporkan telah menggelar pertemuan bersama Wakil Presiden JD Vance, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Direktur CIA John Ratcliffe pada hari Sabtu demi membahas peningkatan eskalasi konflik.

"Kami ingin mencapai kesepakatan," kata Trump sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Proses negosiasi lanjutan masih mengalami hambatan berhubung dengan pihak AS yang menegaskan belum menerima draf kesepakatan terbaru yang dinilai cukup oleh otoritas Iran. Semenjak masa gencatan senjata berjalan pada 8 April, Trump berulang kali melayangkan ancaman bahwa pihaknya akan melanjutkan aksi pemboman yang sebelumnya sudah dimulai pada 28 Februari.

"Mereka belum berada di posisi yang kami inginkan. Mereka harus sampai ke sana atau akan terkena serangan besar, dan mereka tidak menginginkan itu," lanjut Trump sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Berdasarkan data bursa perdagangan tepat pukul 07.02 waktu Singapura, minyak Brent untuk pengiriman Juli bergerak menguat sebesar 1,1 persen ke posisi US$110,43 per barel. Pada saat yang sama, kontrak minyak WTI untuk pengiriman Juni mengalami kenaikan 1,7 persen menuju level US107,26 per barel, serta kontrak Juli yang tercatat lebih likuid merosot naik 1,3 persen menuju angka US$102,34 per barel.

Terkini