IHSG Merosot 1,98 Persen ke Level 6.723 Ditengah Aksi Jual Asing

Senin, 18 Mei 2026 | 10:50:43 WIB
Ilustrasi Pergerakan IHSG menutup sesi perdagangan pada hari Rabu (13/5) di teritori negatif(Gambar: NET)

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan pada hari Rabu (13/5) di teritori negatif dengan mencatatkan penurunan sebesar 1,98 persen ke posisi 6.723,32. Aktivitas pasar modal di dalam negeri terpantau berada di bawah tekanan akibat tingginya volume penjualan yang dilakukan oleh pemodal internasional serta imbas dari sentimen perombakan indeks global sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan laporan publikasi dari PT Mega Capital Sekuritas, perusahaan efek di bawah naungan CT Corpora yang telah berkiprah sejak tahun 1991, data transaksi menunjukkan bahwa penarikan dana oleh investor asing di pasar reguler menembus Rp1,35 triliun. Di samping itu, akumulasi penjualan bersih asing di seluruh papan perdagangan secara keseluruhan mencapai kisaran Rp1,53 triliun.

Kemunduran laju indeks ini juga dipicu oleh rontoknya performa sebagian besar sektor saham, di mana sektor industri dasar (basic industry) membukukan kejatuhan paling dalam dengan koreksi mencapai 4,43 persen. Di sisi lain, sektor transportasi menjadi satu-satunya lini yang mampu bertahan dari koreksi dan melesat naik sebesar 4,89 persen.

Kendati demikian, terdapat beberapa saham yang sukses bergerak melawan arus pasar dan menjadi penopang indeks, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang menguat sebesar 4,52 persen. Selain itu, saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ikut merangkak naik 12,18 persen, serta PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) yang melesat hingga 11,11 persen.

Berbanding terbalik, koreksi yang cukup dalam dialami oleh deretan emiten berkapitalisasi pasar besar dan sektor energi. Nilai saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusut sebesar 3,11 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) anjlok hingga 14,85 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) jatuh sebesar 11,36 persen.

Sentimen negatif dari pasar global pun ikut membayangi bursa saham di Amerika Serikat yang juga menyudahi perdagangan di zona merah. Indeks Dow Jones terpangkas sebesar 1,07 persen menuju level 49.526, indeks S&P 500 melemah 1,24 persen ke posisi 7.408, sedangkan indeks Nasdaq terkoreksi sebanyak 1,54 persen ke angka 26.225.

Saat ini, para pelaku pasar terus mengantisipasi dampak lanjutan dari penataan ulang bobot portofolio atau rebalancing indeks MSCI yang dinilai belum sepenuhnya selesai. Bersamaan dengan momentum tersebut, lembaga FTSE Russell menetapkan regulasi penghapusan untuk saham-saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) efektif mulai tanggal 22 Juni 2026.

Pada pelaksanaan review indeks di bulan Juni 2026 tersebut, FTSE Russell bakal menerapkan pembaruan Industry Classification Benchmark (ICB) beserta penyesuaian bobot saham berkala setiap triwulan tanpa memberlakukan buffer 1 persen. Selain itu, penyesuaian porsi saham publik (free float) juga akan dijalankan tanpa adanya buffer 3 persen.

Bagi emiten yang menyandang status HSC, nantinya akan ditetapkan harga teoritis senilai nol rupiah guna mempermudah para manajer investasi pasif dalam merestrukturisasi portofolio mereka. Regulasi anyar ini dinilai bakal membawa dampak yang cukup signifikan bagi dua emiten besar di dalam negeri.

Dua perusahaan yang paling terdampak atas kebijakan ini ialah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan rasio kuantitas HSC mencapai 97,31 persen, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang mencatatkan rasio sebesar 95,76 persen.

Tekanan jual terhadap saham DSSA diproyeksikan akan lebih besar mengingat kontribusi bobotnya di dalam FTSE Indonesia Index berada di level 3,14 persen, sementara saham BREN berada di bawah angka 2,60 persen.

Di tengah situasi pasar yang bergerak dinamis, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) memaparkan adanya pertumbuhan pada performa laporan keuangan mereka sepanjang triwulan pertama di tahun 2026.

Pendapatan operasional perusahaan maskapai pelat merah ini menanjak sebesar 5,36 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi senilai US$762,35 juta, lebih tinggi jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar US$723,56 juta.

Kenaikan ini juga diikuti oleh volume jumlah penumpang GIAA yang terkerek naik sebesar 6,76 persen hingga menembus angka 5,42 juta orang, di mana pertumbuhan tersebut ditopang oleh penambahan frekuensi penerbangan sebesar 5,87 persen menjadi sebanyak 19.337 perjalanan. Pada waktu yang bersamaan, total beban usaha perusahaan aviasi ini terpantau mengalami penurunan tipis ke posisi US$713,220 juta.

Melalui langkah efisiensi tersebut, angka rugi periode berjalan yang dialami GIAA berhasil dipangkas secara signifikan sebesar 54,81 persen menjadi sebesar US$41,62 juta dari nominal sebelumnya yang berada di posisi US$75,93 juta.

Berdasarkan analisis teknikal jangka pendek, pergerakan harga saham GIAA dinilai masih berada dalam tren melemah, namun diproyeksikan memiliki ruang untuk berbalik menguat menuju level Rp66.

Sementara itu, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tengah bersiap untuk mengeksekusi aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan perbandingan rasio 1:5 setelah berhasil mengantongi restu dari Bursa Efek Indonesia pada tanggal 5 Mei 2026.

Melalui kebijakan korporasi ini, jumlah total saham RAJA yang beredar di pasar akan bertambah dari semula 4,23 miliar lembar menjadi sebanyak 21,14 billion lembar saham.

Jika mengacu pada harga penutupan pasar per tanggal 13 Mei di level Rp4.400 per saham, maka harga saham RAJA setelah proses stock split secara teoritis akan mengalami penyesuaian menjadi sebesar Rp880 tiap lembar saham. Pihak manajemen saat ini tinggal menunggu keputusan mutlak dari para pemegang saham melalui mekanisme RUPS yang dijadwalkan bakal digelar pada tanggal 23 Juni 2026.

Berdasarkan aturan hukum POJK 15/2022, proses eksekusi dari pemecahan nominal saham ini wajib dirampungkan paling lambat dalam kurun waktu 30 hari kalender setelah mendapatkan persetujuan dari RUPSLB.

Pihak manajemen RAJA sendiri menargetkan aktivitas perdagangan saham di pasar dengan nilai nominal yang baru tersebut sudah mulai bisa dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2026.

Terkini