Indeks Kospi Cetak Rekor Baru Saat Bursa Saham Asia Bergerak Variatif

Senin, 11 Mei 2026 | 11:46:15 WIB
Ilustrasi Indeks KOPSI Menguat (GAMBAR: ebc.com)

JAKARTA – Indeks Kospi Korea Selatan kembali mencatatkan rekor baru pada pembukaan sesi perdagangan, Senin (11/5/2026).

Indeks Kospi tersebut juga memimpin penguatan di bursa saham Asia Pasifik di tengah lonjakan harga minyak serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip laporan dari CNBC, sebagaimana ditulis pada Senin, (11/5/2026), Indeks Kospi Korea Selatan dibuka melesat 3,67% menuju rekor baru, sementara indeks Kosdaq yang mewakili saham berkapitalisasi kecil bergerak sedikit lebih tinggi.

Saham unggulan SK Hynix terpantau naik 9,61%, mengikuti tren saham terkait chip di AS yang melonjak pada hari Jumat sebelumnya.

Indeks Nikkei 225 di Jepang bertambah 0,81%, sementara Topix menguat 0,32%. Namun, saham Nintendo mengalami penurunan 6,63% karena para investor tengah mencerna informasi mengenai langkah pengembang gim tersebut yang akan menaikkan harga Switch 2 di tengah proyeksi penurunan penjualan konsol.

Di tempat lain, indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,71%. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.250, angka ini lebih rendah dibandingkan posisi penutupan terakhir indeks tersebut di level 26.393,71.

Kontrak berjangka yang berhubungan dengan Dow Jones Industrial Average merosot 143 poin atau 0,3%. Begitu pula dengan kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 yang masing-masing mengalami pelemahan sebesar 0,3%.

Pergerakan pada hari Minggu tersebut terjadi setelah S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan masing-masing lebih dari 2% dan 4% pada pekan lalu. Kedua indeks tersebut membukukan kemenangan mingguan keenam secara berturut-turut, yang merupakan pertama kalinya bagi masing-masing indeks sejak tahun 2024.

Adapun indeks Dow naik 0,2% untuk pekan ini, mencatatkan kenaikan mingguan kelima dari enam pekan terakhir. Keputusan Presiden Donald Trump yang menolak proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri perang telah memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.

Iran telah mengajukan proposal baru kepada para negosiator Amerika Serikat yang berfokus pada upaya penghentian konflik di Timur Tengah. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa tawaran balasan tersebut menyerukan penghentian perang di seluruh lini serta pencabutan sanksi terhadap pihak Teheran, dengan mengutip sumber yang mengetahui informasi tersebut.

Akan tetapi, Trump menyatakan bahwa dirinya tidak menyukai tanggapan pihak Iran dan menyebutnya "SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" dalam sebuah unggahan di Truth Social sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada hari Minggu bahwa peperangan dengan Iran "belum berakhir," mengingat Amerika Serikat dan Israel masih berupaya keras untuk meredam ambisi nuklir Teheran sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pernyataan Netanyahu tersebut muncul menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada akhir pekan ini, di mana ia dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Kondisi perang serta penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran telah mengakibatkan kenaikan biaya energi global dan melonjaknya harga gas secara tajam di wilayah Amerika Serikat.

Tercatat kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni naik 3,39% menjadi USD 98,65 per barel pada pukul 20:06 ET. Sedangkan kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik 3,37% menjadi USD 104,66 per barel.

Terkini