Marak Aksi Korporasi Saham, Investor Diminta Cermat Baca Tujuan Dana

Senin, 11 Mei 2026 | 11:15:55 WIB
Ilustrasi Saham (FOTO: emitennews.com)

JAKARTA – Aktivitas pengumpulan dana melalui mekanisme private placement serta rights issue terpantau semakin marak dilakukan oleh para emiten dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan. Tren ini mencuat di tengah kondisi pasar saham yang masih mengalami fluktuasi serta meningkatnya kebutuhan pendanaan bagi perusahaan.

Oleh karena itu, para investor diimbau untuk lebih teliti dalam memahami tujuan dari dilakukannya aksi korporasi tersebut. Hal ini dikarenakan tidak seluruh aksi private placement maupun rights issue secara otomatis memberikan dampak positif bagi pergerakan harga saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejumlah perusahaan tercatat baru-baru ini telah menyampaikan rencana penerbitan saham baru, mulai dari sektor kesehatan, perbankan, pertambangan, hingga energi. Sebagai contoh, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) baru saja memperoleh dana senilai Rp 7,97 miliar melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau PMTHMETD.

Perusahaan tersebut melepas 29,65 juta lembar saham baru pada tingkat harga Rp 269 per saham, yang seluruhnya diambil oleh investor individu nonafiliasi, Gene Richard sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Rencana penggunaan dana private placement ialah untuk pengembangan usaha perseroan dalam bentuk modal kerja, penambahan outlet, pembelian saham dan aset atau penyertaan saham pada satu atau lebih perusahaan di industri yang relevan dengan kegiatan usaha grup perseroan,” ungkap VP Sekretaris Perusahaan DGNS Stefanus Ivanly dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga tengah mempersiapkan private placement hingga sebanyak 2,44 miliar lembar saham, atau setara 10 persen dari total saham yang beredar. Dana yang dihasilkan akan dialokasikan untuk modal kerja serta pengembangan grup usaha.

Sementara itu, PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) berencana mengeluarkan 1,4 miliar saham baru Seri C dengan nilai nominal Rp 100 per lembar guna memperkuat struktur permodalan serta menunjang ekspansi bisnis sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain nama-nama tersebut, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) juga telah mengumumkan agenda serupa pada pengujung April 2026. Di sisi lain, aksi rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu juga mengalami peningkatan.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menerbitkan 13,5 miliar saham baru Seri B, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyiapkan 25 miliar saham baru, dan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) tengah menyiapkan rights issue jilid II sebanyak 5,7 miliar saham guna mengakuisisi pabrik Mayne Pharma di Australia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa fenomena ini menandakan besarnya kebutuhan dana emiten, namun tujuannya tidak selalu berkaitan dengan ekspansi. “Ada juga yang digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, modal kerja, akuisisi, hingga perbaikan neraca,” ujar Ekky, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekky menambahkan bahwa investor tetap dapat menyerap aksi korporasi tersebut selama prospek bisnisnya jelas, penggunaan dananya bersifat produktif, serta didukung oleh investor strategis. Namun, para investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap risiko dilusi kepemilikan saham.

Sebagai gambaran, private placement MDKA diprediksi memicu dilusi sekitar 9,09 persen, sementara rights issue VKTR dan PYFA diperkirakan membawa dampak dilusi yang lebih besar, masing-masing sekitar 36,36 persen dan 45,69 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menekankan bahwa bertambahnya jumlah saham yang beredar dapat memicu penurunan valuasi atau derating valuation apabila dana hasil aksi korporasi tidak dikelola secara optimal.

“Jika private placement atau rights issue kurang dioptimalkan, maka akan menyebabkan derating valuation atau penurunan valuasi sebagai akibat dari jumlah saham beredar yang lebih banyak, sehingga harga saham emiten pelaksana aksi korporasi tersebut berpotensi turun,” jelas Harry, Sabtu (9/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, kenaikan harga saham masih dimungkinkan terjadi apabila dana tersebut digunakan untuk langkah ekspansi yang mampu mendongkrak kinerja perusahaan. “Emiten yang akan memaksimalkan rights issue adalah emiten yang memanfaatkan dananya untuk kegiatan ekspansi seperti,” tambah Harry. Ekky pun menutup dengan peringatan agar investor tidak serta-merta menganggap aksi korporasi sebagai sentimen positif, melainkan harus mencermati fundamental hingga profil investor penyerap saham baru. “Namun, jika dilusinya besar dan prospek bisnisnya belum jelas, sebaiknya lebih berhati-hati,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini