Kinerja Kuartal I 2026 Positif, Saham Perbankan Besar Terus Melaju

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:53:03 WIB
Ilustrasi Perbankan Besar (GAMBAR: finance.yahoo.com)

JAKARTA – Saham-saham bank dengan kapitalisasi pasar besar atau big banks secara serentak mengalami penguatan pada perdagangan selama sepekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh beragam faktor, mulai dari publikasi laporan kinerja yang memuaskan hingga adanya sokongan melalui penempatan dana oleh pemerintah.

Secara spesifik, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan kenaikan paling signifikan dalam satu minggu ini. Urutan selanjutnya diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Saat ini, harga BBRI bertengger di level Rp 3.260 atau meningkat hingga 9,03% dalam sepekan. Pertumbuhan harga BBRI ini juga beriringan dengan aksi beli bersih atau net buy dari investor internasional yang mencapai Rp 776,24 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, harga BBCA terpantau berada di level Rp 6.175 atau tumbuh 5,56% dalam sepekan. Meskipun harganya merangkak naik, BBCA dalam periode sepekan ini justru mengalami aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing senilai Rp 500,44 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi yang hampir serupa dialami oleh BMRI yang saat ini berada di posisi Rp 4.630 atau naik 5,47% sepekan, dengan catatan net sell sebesar Rp 1,60 triliun. Adapun harga BBNI kini berada di Rp 3.860 atau naik 3,76% sepekan, di mana BBNI sukses mencatatkan net buy senilai Rp 69,28 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata memberikan penilaian bahwa dinamika saham big banks sepekan terakhir sangat dipengaruhi oleh publikasi kinerja keuangan mereka pada kuartal I-2026. Keempat bank besar tersebut telah merilis laporan dengan hasil pertumbuhan yang positif.

Liza menyebutkan bahwa performa bank milik negara, yakni BBRI, BMRI, dan BBNI, tampak lebih agresif jika dibandingkan dengan BBCA sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Liza berpendapat kinerja bank pemerintah bisa bergerak lebih cepat karena penyaluran kredit yang lebih berani, mengingat mereka didorong untuk menyalurkan pinjaman ke program-program strategis pemerintah.

Selain itu, pemerintah turut membantu aspek likuiditas melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 200 triliun yang memberikan dampak positif terhadap penurunan biaya dana sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dilihat dari sisi valuasi, Liza menyebutkan bahwa BBNI saat ini tampak menjadi yang paling murah di antara kelompok bank besar tersebut. Di sisi lain, BMRI tetap menjadi pilihan yang paling seimbang antara aspek kualitas aset, valuasi, serta stabilitas pendapatan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BBRI juga dinilai semakin memikat untuk diperhatikan karena kebangkitan pertumbuhan kredit UMKM di industri.

Apabila tren pemulihan kredit ini terus berjalan dan tekanan pencadangan berkurang, Liza berpendapat BBRI sangat cocok untuk diakumulasikan dalam jangka panjang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Adapun untuk BBCA, Liza menyebut emiten ini tetap menjadi standar bagi pertumbuhan big banks.

BBCA memiliki profil paling defensif dengan ketersediaan dana murah (CASA) yang sangat besar, sehingga fundamental perusahaan diprediksi akan terjaga dengan aman di masa depan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Secara keseluruhan, Kiwoom Research saat ini masih overweight pada BMRI dan BBNI karena kombinasi valuasi yang murah, dividen yield menarik, dan momentum earnings yang masih konsisten," kata Liza, Sabtu (9/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini