Yield SBN 10 Tahun 6,7 Persen Jadi Peluang Menarik Investor Baru

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:25:49 WIB
Ilustrasi Yield dalam Investasi (GAMBAR: linkedin)

JAKARTA - Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun mulai memperlihatkan arah penurunan menuju level 6,7% setelah sempat menyentuh angka hampir 7% pada rentang Maret hingga April 2026.

Walau begitu, posisi tersebut dipandang masih cukup tinggi apabila dikomparasikan dengan kondisi awal tahun 2026 yang berada pada kisaran 6,0%.

Situasi yield yang masih berada di level tinggi ini memberikan efek yang beragam bagi para pemegang obligasi. Pada satu bagian, meroketnya yield mengakibatkan harga obligasi yang beredar di pasar mengalami tekanan sehingga memunculkan risiko kerugian modal (capital loss) untuk investor lama.

Akan tetapi, di sisi yang lain, fenomena ini justru menciptakan celah keuntungan bagi para investor yang baru masuk.

Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, menyebutkan bahwa meningkatnya yield menjadikan instrumen obligasi kian memikat, baik dari aspek imbal hasil maupun prospek keuntungan modal ke depannya.

“Di sisi lain, yield tinggi memberi peluang masuk bagi investor baru karena kupon dan potensi capital gain menjadi lebih menarik jika yield kemudian turun,” ujar Syafruddin, Kamis (7/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hingga saat ini, angka yield SBN tenor 10 tahun berada di posisi sekitar 6,701%, lalu tenor 5 tahun pada level 6,781%, dan untuk tenor 3 tahun di angka 6,542%. Syafruddin menilai besaran yield tersebut masih memberikan imbal hasil nominal yang kompetitif, terutama jika laju inflasi dapat terus diredam.

Dalam catatannya, inflasi saat ini menyentuh angka 2,42% dengan inflasi inti di level 2,44%. Melalui kondisi tersebut, jarak antara yield obligasi dan angka inflasi tetap memberikan imbal hasil riil (real yield) yang positif bagi para penanam modal.

“Selisih antara yield dan inflasi memberi ruang real yield positif, yang dapat menarik investor jangka menengah-panjang,” bubuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun terdapat peluang, Syafruddin memberikan peringatan kepada para investor agar tidak terlalu agresif dalam memasuki pasar obligasi tanpa mengukur risiko pasar yang masih tergolong tinggi. Cara investasi yang dianggap lebih bijak adalah dengan mengumpulkan aset secara berkala serta menentukan tenor obligasi yang pas dengan profil risiko tiap individu.

Bukan hanya itu, para investor pun diimbau untuk tidak memfokuskan seluruh dana investasinya pada satu tenor jatuh tempo saja demi meminimalisir risiko penumpukan portofolio.

Untuk investor dengan profil konservatif, Syafruddin memberikan saran untuk memilih obligasi dengan tenor pendek atau menengah guna meredam risiko durasi di tengah gejolak pasar yang masih terjadi.

Di lain pihak, investor yang agresif dan berani menghadapi dinamika pasar bisa mulai mengumpulkan obligasi tenor 5 hingga 10 tahun, khususnya jika mereka yakin bahwa pergerakan yield sudah hampir mencapai puncaknya dan kondisi kurs rupiah mulai stabil.

Syafruddin menambahkan, bagi investor institusi, sangat penting untuk memperhatikan beberapa indikator kunci seperti credit default swap (CDS), pergerakan mata uang rupiah, aliran modal asing, hingga agenda lelang SBN dari pemerintah.

Jika angka CDS terus melandai, posisi rupiah tetap kokoh, dan yield SBN tenor 10 tahun sanggup bertahan di rentang 6,7%, maka harga obligasi memiliki peluang untuk kembali merangkak naik dalam waktu dekat.

“Jadi, yield tinggi memang dapat menjadi peluang, tetapi peluang itu hanya layak diambil dengan disiplin risiko, horizon investasi jelas, dan keyakinan bahwa stabilitas makro tetap terjaga," pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini