Daftar Saham Bank Bagi Dividen Terbesar di Tengah Koreksi Harga

Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:03:27 WIB
Ilustrasi Bank (FOTO: marketbeat.com)

JAKARTA – Sejumlah saham di sektor perbankan pada Bursa Efek Indonesia (BEI), mulai dari kategori blue chip hingga saham bank pembangunan daerah, tengah aktif membagikan dividen yang berasal dari laba bersih tahun buku 2025.

Pertanyaannya, saham bank mana yang memberikan imbal hasil paling tinggi bagi para investor? Fenomena ini sangat menarik karena berlangsung saat harga saham perbankan cenderung turun sejak awal tahun.

Kondisi ini justru menjadikan tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) pada beberapa saham bank tampak semakin menggoda bagi investor yang mengincar dividen.

Sejumlah emiten bank bahkan telah melewati masa cum date, yang merupakan batas akhir pembelian saham untuk mendapatkan hak dividen tersebut.

Sebagai ilustrasi, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) akan menyalurkan dividen dengan rasio 20% dari total laba bersih 2025, atau setara Rp 1,51 triliun. Jumlah ini setara dengan Rp 32,81 per lembar saham.

Perolehan dividen BRIS ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,05 triliun atau Rp 22,78 per saham. Melihat harga penutupan BRIS pada Jumat (8/5/2026) di Rp 1.910 per saham, maka perkiraan dividend yield BRIS ada di kisaran 1,2%.

Di sisi lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) Menetapkan dividen senilai Rp 850,18 miliar atau Rp 56,62 per lembar saham. Angka ini naik dari tahun lalu yang sebesar Rp 54,71 per saham.

Secara total, dividen yang dibagikan mencapai 55% dari laba bersih 2025. Pada perdagangan Jumat (8/5), harga saham BJTM berada di level Rp 605 per saham atau naik 1,68% dari hari sebelumnya, sehingga dividend yield BJTM mencapai sekitar 9,4%.

Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) resmi membagikan total dividen Rp 52,1 triliun atau Rp 346 per saham. Nilai ini sudah termasuk dividen interim Rp 137 per saham atau Rp 20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026.

Dengan begitu, sisa dividen tunai yang akan dibayar adalah Rp 209 per saham atau Rp 31,47 triliun.

Dengan harga saham BBRI sebesar Rp 3.260 per saham, dividend yield BBRI menjadi salah satu yang tertinggi di industri perbankan, yakni sekitar 10,6%. Penurunan harga saham BBRI sebesar 10,93% sejak awal tahun menjadi alasan utama imbal hasilnya kian menarik.

Adapun PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) dijadwalkan membagikan dividen tunai Rp 35,15 triliun atau Rp 376,96 per saham pada 25 Mei 2026. Melalui kebijakan ini, investor akan menerima sekitar Rp 37.696 untuk setiap lot saham BMRI.

Pada Jumat (8/5), BMRI ditutup di level Rp 4.630 per saham atau turun harian 0,22%, dengan dividend yield sekitar 8,14%.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) telah menyalurkan dividen Rp 13,03 triliun, atau 65% dari laba bersih konsolidasian 2025 sebesar Rp 20,04 triliun. Setiap pemegang saham BBNI menerima dividen tunai Rp 349,41 per saham dengan estimasi yield dividen 9,05%.

Begitu juga dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang menetapkan dividen tunai Rp 336 per saham dari laba bersih 2025 yang mencapai Rp 57,5 triliun. Total dividen final BBCA tercatat Rp 41,3 triliun dengan rasio pembayaran dividen (DPR) 72%, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 67,4%.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai bahwa BJTM adalah salah satu pilihan saham bank yang menarik dari sisi dividen yield saat ini.

“BJTM menjadi salah satu saham bank yang menarik dari sisi dividend yield karena dividen Rp 56,62 per saham memberikan estimasi yield sekitar 9,5%-9,6% berdasarkan harga saham di kisaran Rp 590-Rp 595,” tutur Ekky Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain BJTM, saham bank besar seperti BMRI dan BBRI juga dinilai tetap prospektif. BMRI menyalurkan dividen sekitar Rp 376,96 per saham, sedangkan BBRI memberi Rp 346 per saham. Menurut Ekky, pembagian dividen biasanya menjadi sentimen positif jangka pendek karena minat investor tinggi sebelum cum date, namun harga sering terkoreksi setelah ex-date.

“Dampak pembagian dividen biasanya positif dalam jangka pendek karena minat investor meningkat menjelang cum date. Namun setelah ex-date, harga saham umumnya berpotensi terkoreksi menyesuaikan nilai dividen,” jelas Ekky, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengenai prospek tahun 2026, Ekky memprediksi pergerakan sektor perbankan cenderung mendatar. Investor tetap waspada pada margin bunga, biaya dana, kualitas kredit, dan suku bunga.

Data OJK menunjukkan kredit perbankan hingga Maret 2026 tumbuh 9,49% (yoy), namun tantangan pada segmen UMKM perlu diperhatikan. Ekky menyarankan investor mencermati BJTM saat harga di bawah Rp 600 per saham.

“Area tersebut masih memberikan yield yang atraktif dan margin of safety lebih baik,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Target harga pendek BJTM diproyeksikan di rentang Rp 650 sampai Rp 670 per saham. Senada, Senior Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai dividen perbankan tetap punya daya tarik meski tidak lagi seprogresif dulu.

Menurutnya, tekanan margin bunga dan potensi biaya pencadangan membatasi kenaikan rasio dividen. Namun, permodalan bank yang kuat diyakini mampu menjaga kesinambungan pembagian dividen di masa depan. Perbankan diperkirakan akan memprioritaskan stabilitas dividen dibandingkan sekadar mengejar hasil yang tinggi.

Terkini