JAKARTA - Pergerakan harga komoditas global kembali menunjukkan dinamika yang menarik perhatian pasar.
Salah satu yang menonjol adalah kenaikan harga perak dalam beberapa waktu terakhir. Tren ini memberikan sinyal optimisme bagi pelaku pasar terhadap potensi logam mulia tersebut.
Harga perak dunia bangkit ditandai dengan mampu meraih kinerja mingguan positif selama dua kali beruntun. Bahkan pada pekan ini melejit nyaris 5%. Kondisi ini menunjukkan adanya dorongan kuat dari berbagai faktor global.
Berdasarkan data Refinitiv harga perak dunia pada akhir sesi perdagangan peka ini berada di US$72,99 per troy ons atau dalam kinerja sepekan melesat 4,89%. Peningkatan ini menjadi indikator penting dalam melihat tren pasar. Kenaikan tersebut memperkuat posisi perak di pasar global.
Lonjakan Harga dan Rekor Tertinggi
Lonjakan paling tinggi sepanjang pekan ini terjadi pada sesi perdagangan Selasa. Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa ditutup di US$75,11 per troy ons atau melonjak 7,2%. Lonjakan ini membawa perak ke level tertinggi sejak pertengahan Maret 2026.
Kenaikan harga ini juga memperpanjang perak dengan menguat 10,4% dalam tiga hari beruntun. Hal ini menunjukkan adanya momentum yang kuat di pasar. Pergerakan ini menarik perhatian para investor global.
Kendati demikian, dalam sebulan harga perak ambruk 19,95% di Maret 2026 atau rekor terburuk sejak Agustus 2008 sebesar 23,19%. Penurunan ini menjadi pengingat bahwa volatilitas masih tinggi. Fluktuasi harga tetap menjadi risiko utama dalam perdagangan komoditas.
Pengaruh Sentimen Global terhadap Harga Perak
Harga emas melemah pada hari ini. Pada perdagangan pertengahan pekan, harga perak diperdagangkan di US$75,04 per troy ons atau melandai 0,09%. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan jangka pendek.
Analis di BNP Paribas memperkirakan harga perak akan bergerak di kisaran US$65 hingga US$75 per ons hingga 2026, serta memperkirakan pasar fisik akan beralih ke surplus pada 2027. Proyeksi ini memberikan gambaran arah pergerakan harga ke depan. Dengan demikian, investor memiliki referensi dalam mengambil keputusan.
Harga perak juga terdorong oleh sentimen meredanya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Sentimen geopolitik sering menjadi faktor utama dalam pergerakan harga komoditas. Perubahan kondisi global dapat langsung memengaruhi pasar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dalam unggahan di Truth Social bahwa presiden Iran meminta gencatan senjata, namun juru bicara kementerian luar negeri Iran menyebut klaim tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Unggahan tersebut memicu berbagai reaksi di pasar global. Ketidakpastian ini menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga.
Dampak Geopolitik dan Kebijakan Moneter
"Akhirnya konflik bisa menjadi pedang bermata dua bagi emas. Di satu sisi, perdamaian yang bertahan lama akan menghilangkan permintaan safe haven berbasis geopolitik yang selama ini menopang harga," kata analis pasar IG, Tony Sycam Sycam. Pernyataan ini menggambarkan kompleksitas dampak konflik terhadap harga logam mulia.
Di sisi lain, harga minyak yang lebih rendah dan menekan inflasi dapat menghidupkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun 2026 sehingga dapat mendukung harga emas. Kondisi ini menunjukkan hubungan erat antara energi dan kebijakan moneter. Faktor-faktor tersebut saling memengaruhi dalam menentukan arah pasar.
Tekanan Akhir Pekan dan Prospek Ke Depan
Meskipun melonjak tinggi, namun pada akhir sesi perdagangan minggu ini harga perak ambles 2,84% ke US$72,99 per troy ons. Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan pasar menjelang akhir pekan. Kondisi ini menjadi bagian dari dinamika yang wajar.
Penyebabnya adalah ketidakpastian kapan perang Amerika Serikat berakhir, meskipun sebelumnya Trump memberikan narasi kuat soal akhir dari perang tersebut. Ketidakjelasan ini membuat investor cenderung berhati-hati. Akibatnya, harga mengalami koreksi.
Trump dalam pidato televisinya mengatakan bahwa militer Amerika Serikat hampir mencapai tujuannya di Iran. Namun, dia tidak memberikan jadwal yang jelas untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama sebulan. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di pasar.
Ia juga berjanji akan membombardir negara tersebut hingga kembali ke "Zaman Batu". Pernyataan keras ini memicu reaksi global yang cukup besar. Dampaknya terasa pada berbagai instrumen pasar.
Harga minyak naik setelah pernyataan Trump. Kenaikan harga energi ini mendorong inflasi secara lebih luas. Kondisi tersebut mengurangi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Secara keseluruhan, pergerakan harga perak menunjukkan dinamika yang dipengaruhi berbagai faktor global. Dari geopolitik hingga kebijakan moneter, semua berperan dalam membentuk arah pasar. Dengan memahami kondisi ini, pelaku pasar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak.