JAKARTA - Momentum arus balik Lebaran selalu menjadi perhatian utama karena melibatkan jutaan kendaraan yang kembali ke pusat aktivitas.
Tahun ini, pergerakan kendaraan menuju Jakarta menunjukkan pola yang cukup terkendali meskipun volumenya tetap tinggi. Kondisi ini mencerminkan pengelolaan lalu lintas yang berjalan cukup efektif selama periode libur panjang.
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menyebut 2.989.931 kendaraan kembali ke Jakarta selama H-10 hingga H+8 atau periode 11-29 Maret 2026, yang sekaligus menjadi hari terakhir arus balik periode libur Lebaran tahun ini.
Angka tersebut merepresentasikan sebanyak 88,09% dari total proyeksi yang mencapai 3,39 juta kendaraan yang berdasarkan simulasi akan berakhir hari ini, Selasa, 31 Maret 2026. Data ini memberikan gambaran besarnya mobilitas masyarakat setelah libur Lebaran.
Angka tersebut merupakan kumulatif arus lalu lintas dari empat Gerbang Tol utama. Gerbang tersebut meliputi Cikampek Utama dari arah Trans Jawa, Kalihurip Utama dari arah Bandung, Cikupa dari arah Merak, dan Ciawi dari arah Puncak. Keempat titik ini menjadi jalur vital pergerakan kendaraan menuju wilayah Jabodetabek.
Distribusi Kendaraan Berdasarkan Arah Perjalanan
Secara rinci Jasa Marga mengungkap bahwa distribusi lalu lintas kendaraan berasal dari tiga arah. Mayoritas sebanyak 1.417.927 kendaraan atau 47,4% berasal dari arah Timur, yakni Trans Jawa dan Bandung. Sementara itu, sebanyak 872.657 kendaraan atau 29,2% berasal dari arah Barat yaitu Merak.
Selain itu, sebanyak 699.347 kendaraan atau 23,5% berasal dari arah Selatan yakni Puncak. Distribusi ini menunjukkan bahwa jalur Timur masih menjadi kontributor terbesar arus balik. Hal tersebut sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Perbandingan ini juga mencerminkan preferensi jalur perjalanan masyarakat. Jalur Trans Jawa yang memiliki infrastruktur lengkap menjadi pilihan utama. Sementara jalur lainnya tetap berkontribusi meskipun dengan volume yang lebih kecil.
Rincian Arus Lalu Lintas dari Arah Timur
Lalu lintas kembali ke Jabotabek dari arah Trans Jawa melalui GT Cikampek Utama Jalan Tol Jakarta-Cikampek mencapai 795.031 kendaraan. Angka ini meningkat 48,8% dari lalu lintas normal. Kenaikan signifikan ini menunjukkan tingginya aktivitas arus balik dari wilayah tersebut.
Sementara itu, kendaraan dari arah Bandung melalui GT Kalihurip Utama Jalan Tol Cipularang tercatat sebanyak 622.896 kendaraan. Jumlah ini meningkat 2,2% dari kondisi normal. Kenaikan tersebut relatif lebih stabil dibandingkan jalur Trans Jawa.
Total lalu lintas dari kedua arah ini mencapai 1.417.927 kendaraan. Angka tersebut meningkat 24,0% dari lalu lintas normal. Hal ini menegaskan dominasi jalur Timur sebagai jalur utama arus balik.
Pergerakan Kendaraan dari Arah Barat dan Selatan
Lalu lintas kembali ke Jabotabek dari arah Merak melalui GT Cikupa Jalan Tol Tangerang-Merak tercatat sebanyak 872.657 kendaraan. Angka ini sedikit lebih rendah 0,3% dari lalu lintas normal. Hal tersebut menunjukkan kondisi arus yang relatif stabil tanpa lonjakan signifikan.
Dari arah Selatan, jumlah kendaraan yang kembali melalui GT Ciawi Jalan Tol Jagorawi mencapai 699.347 kendaraan. Angka ini meningkat 2,9% dari lalu lintas normal. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dari kawasan wisata seperti Puncak.
Kedua jalur ini tetap memainkan peran penting dalam mendukung kelancaran arus balik. Meskipun tidak sebesar jalur Timur, kontribusinya tetap signifikan. Distribusi yang merata membantu mengurangi potensi kemacetan di satu titik tertentu.
Kondisi Lalu Lintas dan Penyesuaian Kebijakan
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan volume lalu lintas yang kembali ke wilayah Jabotabek pada H+8 atau Minggu, 29 Maret 2026 mencapai 216.164 kendaraan. Angka ini meningkat 23,0% dibandingkan kondisi normal yang mencapai 175.739 kendaraan. Lonjakan ini menjadi salah satu puncak arus balik tahun ini.
Usai arus tersebut, rata-rata volume per capacity ratio lalu lintas harian di ruas Jalan Tol Trans Jawa berangsur kembali normal. Kebijakan rekayasa lalu lintas seperti one way dan contraflow juga resmi dihentikan. Hal ini menunjukkan kondisi lalu lintas yang mulai stabil setelah periode puncak.
"Seluruh rekayasa lalu lintas berupa one way presisi maupun contraflow telah dihentikan berdasarkan diskresi kepolisian," kata dia. "Bersamaan dengan hal tersebut, rata-rata volume per capacity ratio lalu lintas harian Jalan Tol Trans Jawa juga telah kembali ke kondisi normal."
Pernyataan ini menegaskan bahwa situasi lalu lintas sudah kembali terkendali dan siap menghadapi aktivitas harian seperti biasa.