Minim Perencanaan Pensiun, Gen Z dan Milenial Hadapi Ancaman Finansial Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 10:38:11 WIB
Minim Perencanaan Pensiun, Gen Z dan Milenial Hadapi Ancaman Finansial Serius

JAKARTA - Perencanaan keuangan jangka panjang semakin menjadi perhatian di tengah perubahan demografi masyarakat. 

Generasi muda kini menghadapi tantangan baru terkait kesiapan finansial di masa tua. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi individu di masa depan.

Bank DBS Indonesia mengungkapkan bahwa komitmen generasi muda dalam menyiapkan dana pensiun masih tergolong rendah. Situasi ini menjadi perhatian serius mengingat proyeksi peningkatan populasi usia lanjut dalam beberapa dekade mendatang. Tanpa persiapan yang matang, risiko finansial dapat meningkat di masa tua.

Berdasarkan studi Ageing Society 2025, sebanyak 19 persen responden usia 22 hingga 27 tahun mengaku belum berkomitmen menabung untuk pensiun. Persentase yang sama juga terjadi pada kelompok usia 28 hingga 43 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok usia produktif masih belum memiliki perencanaan pensiun yang optimal.

Pentingnya Strategi dan Disiplin Keuangan

Head of Market Intelligence Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry, menekankan pentingnya strategi dalam mempersiapkan dana pensiun. Menurutnya, menabung saja tidak cukup untuk menjamin masa depan yang aman. Diperlukan perencanaan yang matang serta konsistensi dalam menjalankannya.

“Sebab mempersiapkan masa pensiun bukan sekadar menabung, tetapi memahami strategi sejak dini serta menjalankannya dengan disiplin dan konsisten,” ujarnya.

Data menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat hanya menyisihkan sekitar 3 persen dari pendapatan untuk tabungan. Angka ini jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10 persen. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan banyak masyarakat tidak memiliki dana pensiun yang memadai.

“Tanpa perencanaan yang memadai, banyak individu berisiko memasuki masa pensiun dalam kondisi rentan secara finansial, mulai dari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan biaya kesehatan hingga ketergantungan pada orang lain,” ujar Boy.

Prioritas Jangka Pendek Hambat Perencanaan Pensiun

Generasi muda saat ini cenderung memprioritaskan kebutuhan jangka pendek dalam pengelolaan keuangan. Gaya hidup, pengembangan karier, dan peningkatan pendapatan menjadi fokus utama. Akibatnya, perencanaan jangka panjang seperti dana pensiun sering kali tertunda.

Kondisi ini mencerminkan pola pikir yang lebih berorientasi pada kebutuhan saat ini. Padahal, perencanaan keuangan jangka panjang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas masa depan. Tanpa perencanaan yang tepat, risiko finansial akan semakin besar.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan perubahan pola pikir dalam mengelola keuangan. Generasi muda perlu mulai menyadari pentingnya investasi sejak dini. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan hasil yang signifikan di masa depan.

Strategi Investasi dan Pengelolaan Keuangan

Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah memulai investasi sejak dini. Meskipun dengan nominal kecil, investasi dapat berkembang melalui efek compounding. Hal ini memungkinkan pertumbuhan aset secara bertahap dalam jangka panjang.

Selain itu, perencanaan dana pensiun perlu mencakup berbagai kebutuhan. Tidak hanya kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal, tetapi juga gaya hidup di masa tua. Pendekatan ini membantu menciptakan perencanaan yang lebih realistis.

Dalam pengelolaan keuangan, pendekatan rasio 50-30-20 menjadi salah satu metode yang direkomendasikan. Sebanyak 50 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Sementara itu, 30 persen untuk keinginan pribadi dan 20 persen untuk tabungan serta investasi.

Boy juga menekankan pentingnya diversifikasi dalam investasi. Bagi pemula, instrumen seperti reksa dana dapat menjadi pilihan awal. Instrumen ini dinilai mampu membantu mengelola risiko sekaligus memberikan potensi imbal hasil.

“Bagi generasi yang baru memulai, instrumen yang terdiversifikasi seperti reksa dana dapat menjadi langkah awal yang relatif mudah karena membantu mengelola risiko sekaligus memberikan potensi imbal hasil yang optimal,” ujarnya.

Prospek Dana Pensiun dan Tantangan ke Depan

Di sisi lain, perkembangan dana pensiun di Indonesia menunjukkan tren positif. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menyampaikan proyeksi pertumbuhan aset dana pensiun. Hal ini memberikan harapan bagi penguatan sistem keuangan jangka panjang.

“Aset dana pensiun diproyeksikan tumbuh sekitar 10-12% pada 2026 dan dinilai cukup realistis mengingat pada Desember 2025 aset dana pensiun telah tumbuh sekitar 11,01%,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan utama tetap terletak pada kesadaran masyarakat. Tanpa partisipasi aktif, pertumbuhan dana pensiun tidak akan optimal. Oleh karena itu, edukasi keuangan menjadi hal yang sangat penting.

Ke depan, generasi muda diharapkan lebih proaktif dalam merencanakan masa pensiun. Dengan strategi yang tepat, masa depan finansial dapat lebih terjamin. Langkah ini menjadi kunci untuk menciptakan kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat.

Terkini