Bahlil Menyatakan Bahwa Kepemilikan Saham Indonesia Di Freeport Segera Naik Menjadi 63 Persen

Senin, 23 Februari 2026 | 12:54:10 WIB
Bahlil Menyatakan Bahwa Kepemilikan Saham Indonesia Di Freeport Segera Naik Menjadi 63 Persen

JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah bersiap memperkuat cengkeraman kedaulatannya atas salah satu aset tambang terbesar di dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan sebuah rencana strategis yang akan menjadi tonggak sejarah baru bagi industri pertambangan nasional. 

Dalam pernyataannya, Bahlil menyebut bahwa porsi kepemilikan saham Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI) akan segera mengalami peningkatan signifikan menjadi 63 persen. 

Langkah ambisius ini dipandang bukan sekadar penambahan angka di atas kertas, melainkan upaya konkret untuk memastikan kekayaan alam tanah air memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi kemakmuran rakyat Indonesia secara berkelanjutan.

Peningkatan divestasi saham ini merupakan kelanjutan dari negosiasi panjang yang dilakukan pemerintah dengan pihak Freeport-McMoRan. Bahlil menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah saat ini adalah memperbesar kendali negara atas sumber daya strategis. 

Dengan kepemilikan mayoritas yang semakin solid, posisi tawar Indonesia dalam pengambilan keputusan strategis di tubuh perusahaan tersebut akan menjadi jauh lebih kuat, mencakup aspek operasional, manajemen, hingga kebijakan dividen yang akan masuk ke kas negara.

Langkah Strategis Pemerintah Menuju Dominasi Saham Mayoritas Di Sektor Tambang

Penambahan porsi saham dari 51 persen menjadi 63 persen merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk terus melakukan hilirisasi dan nasionalisasi aset-aset vital. Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penambahan 10 persen saham tambahan ini sedang dalam proses finalisasi melalui revisi regulasi yang diperlukan. 

Menurutnya, proses ini dilakukan secara transparan dan profesional dengan tetap menjaga iklim investasi agar tetap kondusif bagi mitra global. Dominasi saham ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kapabilitas finansial dan manajerial untuk mengelola aset kelas dunia.

"Kepemilikan saham kita di Freeport dari 51 persen, ke depan akan menjadi 63 persen," ujar Bahlil dalam keterangannya. Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa periode transisi menuju kepemilikan yang lebih besar sedang berjalan sesuai jalur. 

Pemerintah optimistis bahwa dengan porsi saham yang menyentuh angka 63 persen, Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemegang kendali utama yang mampu mengarahkan masa depan pertambangan di Papua agar selaras dengan visi pembangunan nasional jangka panjang.

Dampak Peningkatan Saham Terhadap Penerimaan Negara Dan Kesejahteraan Masyarakat Lokal

Secara ekonomi, kenaikan porsi saham ini diproyeksikan akan memberikan dampak domino yang sangat positif terhadap penerimaan negara, baik melalui dividen maupun royalti. 

Bahlil menekankan bahwa setiap persen kenaikan saham berarti tambahan pendapatan yang bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah Papua. Selain itu, kendali mayoritas ini diharapkan dapat mempercepat keterlibatan tenaga kerja lokal dalam posisi-posisi strategis di PT Freeport Indonesia.

Pemerintah juga memastikan bahwa peningkatan saham ini dibarengi dengan komitmen pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar area tambang. Dengan menjadi pemegang saham 63 persen, pemerintah memiliki otoritas lebih tinggi untuk memaksa penerapan standar penambangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Strategi ini diharapkan dapat meredam berbagai isu sosial-ekonomi yang selama ini menyelimuti operasional tambang di Grasberg, sehingga tercipta harmonisasi antara kemajuan industri dan kesejahteraan warga lokal.

Proses Negosiasi Dan Revisi Peraturan Pemerintah Guna Memuluskan Divestasi

Untuk mewujudkan target kepemilikan 63 persen tersebut, pemerintah saat ini tengah melakukan penyempurnaan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. 

Revisi ini menjadi payung hukum penting yang memungkinkan proses penambahan saham dilakukan tanpa kendala birokrasi yang rumit. Bahlil menyebutkan bahwa koordinasi lintas kementerian terus dilakukan secara intensif agar draf regulasi tersebut segera rampung dan dapat diimplementasikan dalam waktu dekat.

Negosiasi dengan Freeport-McMoRan juga mencakup perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) yang menjadi kompensasi logis atas penambahan saham tersebut. 

Pemerintah memastikan bahwa perpanjangan izin ini diberikan dengan syarat-syarat yang sangat menguntungkan Indonesia, termasuk kewajiban pembangunan smelter baru guna mendukung program hilirisasi nasional. Bahlil meyakinkan publik bahwa proses ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian demi melindungi kepentingan nasional di masa depan.

Visi Besar Indonesia Menjadi Pemain Kunci Industri Pertambangan Global

Keberhasilan meningkatkan saham di Freeport menjadi 63 persen akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain kunci yang diperhitungkan dalam peta pertambangan global. Bahlil Lahadalia memandang langkah ini sebagai bagian dari cita-cita besar untuk menjadikan Indonesia mandiri secara ekonomi. 

Dominasi saham ini diharapkan menjadi benchmark bagi pengelolaan blok-blok tambang lainnya di tanah air, di mana negara harus memiliki peran dominan dalam mengelola kekayaan alamnya sendiri.

Optimisme yang disampaikan Bahlil mencerminkan semangat baru dalam tata kelola sumber daya alam Indonesia. Dengan berakhirnya proses divestasi ini nantinya, Indonesia akan mencatatkan sejarah sebagai negara yang mampu mengambil alih kendali aset raksasa dari tangan asing secara elegan dan konstitusional. 

Perjalanan menuju 63 persen adalah perjalanan menuju kedaulatan ekonomi yang lebih kokoh, membawa harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Terkini