JAKARTA - Selama puluhan tahun, wajah Surabaya identik dengan kepulan asap cerobong pabrik dan deru mesin yang tak pernah berhenti. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya telah mengukuhkan posisinya sebagai denyut nadi industri, perdagangan, dan pelabuhan utama.
Kekuatan ekonomi Jawa Timur ini tumbuh pesat berkat dukungan infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Tanjung Perak, konektivitas bandara yang mumpuni, serta kawasan industri terpadu seperti Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER).
Namun, seiring dengan pergeseran paradigma global, identitas Surabaya sebagai kota industri konvensional kini mulai bersalin rupa. Kota yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat maritim dan manufaktur ini sedang melangkah mantap menuju transisi energi hijau.
Tekanan global untuk menciptakan proses produksi yang ramah lingkungan memaksa sektor manufaktur di Surabaya untuk berinovasi, beralih dari ketergantungan energi fosil menuju sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Langkah Strategis Menuju Manufaktur Rendah Karbon
Dalam upaya mempercepat transformasi tersebut, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (SPINDO) mengambil langkah konkret dengan menjalin kemitraan strategis bersama iForte Energi Nusantara.
Kolaborasi ini menandai babak baru bagi industri di Surabaya, di mana efisiensi operasional kini diselaraskan dengan tanggung jawab lingkungan melalui implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.
Proyek ambisius ini mencakup pemasangan sistem energi surya di dua lokasi strategis, yakni Plant/Unit 5 dan Plant/Unit 7. Di Plant/Unit 5, iForte Energi membangun instalasi PLTS dengan kapasitas 904 Kwp.
Sementara itu, langkah yang lebih masif terlihat di Plant/Unit 7 dengan pembangunan sistem PLTS Hybrid berkapasitas 5,4 MWp. Proyek di Unit 7 ini bahkan dilengkapi dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1 MWh guna menjamin stabilitas serta optimalisasi pasokan energi listrik bagi kegiatan produksi.
Pencapaian Rekor PLTS Hybrid Terbesar di Pulau Jawa
Kehadiran sistem di Plant/Unit 7 bukan sekadar instalasi biasa, melainkan telah dinobatkan sebagai PLTS Hybrid terbesar di Pulau Jawa untuk sektor manufaktur. Secara akumulatif, fasilitas energi terbarukan di kedua lokasi tersebut mampu memproduksi energi listrik hingga 9.431,31 MWh per tahun.
Dampak lingkungan yang dihasilkan pun sangat signifikan; kolaborasi ini diprediksi mampu mereduksi emisi karbon hingga 8.488 ton CO2 setiap tahunnya.
Jika dikonversikan ke dalam aksi nyata penghijauan, angka pengurangan emisi tersebut setara dengan manfaat dari penanaman 188.626 pohon. Hal ini membuktikan bahwa sektor industri berat pun mampu memberikan kontribusi nyata dalam mitigasi perubahan iklim tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Komitmen Industri Terhadap Operasional Hijau dan Efisiensi
Bagi manajemen SPINDO, integrasi energi surya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian integral dari strategi meningkatkan daya saing industri di pasar internasional yang semakin menuntut standar keberlanjutan. Efisiensi yang dihasilkan dari transisi ini diharapkan mampu memperkuat posisi perusahaan dalam jangka panjang.
“Integrasi energi surya ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk mengoptimalkan operasional sekaligus mendukung agenda industri hijau,” ujar Wakil Direktur Utama SPINDO, Tedja Sukmana Hudianto itu kepada jurnalis termasuk Kompas.com.
Pernyataan ini menegaskan bahwa masa depan industri Surabaya akan sangat bergantung pada seberapa cepat pelaku usaha mampu mengadopsi teknologi bersih.
Skema Tanpa Investasi Awal Sebagai Solusi Ekspansi
Di sisi lain, iForte Energi Nusantara sebagai mitra penyedia solusi melihat bahwa relevansi energi surya di sektor manufaktur kini semakin meningkat. Tantangan biaya investasi yang seringkali menjadi penghambat bagi perusahaan untuk beralih ke energi bersih kini dapat diatasi melalui model bisnis yang inovatif.
Presiden Direktur dan CEO iForte Energi, Mohamad Iwan, menyatakan antusiasmenya terhadap kolaborasi ini sebagai bukti nyata transisi energi di sektor rill. “Kami sangat antusias menjadi mitra SPINDO dalam menghadirkan solusi energi surya yang minim risiko, dengan jaminan performa dan kualitas,” imbuh Iwan.
Salah satu kunci sukses dari implementasi ini adalah penggunaan skema Solar OPEX Model. Melalui skema ini, perusahaan dapat memanfaatkan energi surya tanpa perlu mengeluarkan investasi awal yang besar atau zero capex.
Dengan beban finansial di awal yang minimal, industri di Surabaya tetap dapat memfokuskan arus kas mereka untuk keperluan ekspansi bisnis dan peningkatan kapasitas produksi, sembari tetap menjalankan misi pelestarian lingkungan. Transformasi ini menjadi bukti bahwa ekonomi hijau dan pertumbuhan industri dapat berjalan beriringan di kota pahlawan.